Episode 1
Rumah yang Tak Pernah Tidur
Warganet – Rumah itu berdiri paling ujung, setelah kebun karet dan jalan tanah yang tak lagi dilalui kendaraan umum. Catnya mengelupas, pagar besinya berdecit tiap kali disentuh angin, dan jendelanya selalu tertutup rapat seolah menyimpan rahasia yang tak ingin dibagi.
Alya berhenti di depan pagar, menatap bangunan dua lantai itu dengan perasaan campur aduk. Harga sewanya terlalu murah untuk ukuran rumah sebesar ini. Dan itu seharusnya menjadi tanda bahaya.
“Rumah itu kosong lama,” kata ibu pemilik rumah waktu itu. “Kalau kamu betah, silakan.”
Alya mengangguk. Ia butuh tempat tinggal. Dan lebih dari itu, ia butuh kesendirian.
Malam pertama berjalan biasa. Hujan turun tipis, suara serangga memenuhi udara. Alya tertidur di kamar lantai bawah dengan lampu kecil menyala. Namun entah mengapa, tepat pukul 03.00, ia terbangun.
Jam dinding berhenti berdetak.
Keheningan terasa berat, seperti seseorang sedang menahan napas di dalam rumah.
Lalu-klik.
Lampu ruang tengah menyala sendiri.
Alya bangkit perlahan. Jantungnya berdetak cepat, namun bukan ketakutan yang ia rasakan—melainkan rasa ingin tahu yang aneh, seolah ada sesuatu yang memanggilnya.
Ia melangkah keluar kamar. Udara ruang tengah terasa hangat, kontras dengan dinginnya malam. Aroma melati menyelinap, lembut namun pekat, bukan aroma bunga segar—melainkan aroma kenangan.
Di depan cermin besar yang menempel di dinding, Alya berhenti.
Bayangan di cermin tidak hanya miliknya.
Di belakangnya berdiri seorang lelaki. Tingginya sedang, rambutnya rapi, wajahnya samar seperti diselimuti kabut senja. Ia tersenyum bukan senyum mengancam, tapi senyum penuh kerinduan.
Alya berbalik. Tak ada siapa-siapa.
Saat ia menoleh kembali ke cermin, bayangan itu masih ada.
“Aku tidak ingin menakutimu,” suara itu terdengar pelan, nyaris seperti bisikan angin. “Tapi aku terlalu lama sendirian.”
Lutut Alya melemas. Ia berpegangan pada meja.
“Siapa kamu?” suaranya bergetar.
“Namaku Senja,” jawabnya. “Dan aku… menunggumu.”
Jam dinding berdetak kembali. Lampu mati. Aroma melati menghilang.
Alya berdiri sendiri, namun hatinya tak lagi merasa kosong.
Di luar, hujan berhenti. Jam menunjukkan 03.01.
Dan untuk pertama kalinya, Alya sadar
rumah ini tidak pernah benar-benar tidur.
Bersambung ke Episode 2


