Ekonomi Dan Bisnis

Produksi Telur Asin hingga Tas Macrame, Ini Ragam Usaha Penyandang Disabilitas Binaan Poskeswa Jombang

17
×

Produksi Telur Asin hingga Tas Macrame, Ini Ragam Usaha Penyandang Disabilitas Binaan Poskeswa Jombang

Sebarkan artikel ini

Jombang, Warganet – Aroma gurih telur asin yang baru matang memenuhi ruang pemberdayaan di Balai Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Sabtu (11/7). Di sudut lain, sejumlah penyandang disabilitas tampak tekun menganyam tas macrame, sementara lainnya mengolah serabut kelapa menjadi sapu yang siap dipasarkan.

 

Beragam produk tersebut menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas mampu menghasilkan karya bernilai ekonomi melalui pendampingan dan pemberdayaan yang berkelanjutan.

 

Aktivitas para penerima manfaat itu ditinjau langsung oleh Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial RI, Fatma Saifullah Yusuf, dalam kegiatan bakti sosial DWP Kemensos bersama Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta. Fatma menyambangi setiap meja produksi, menyapa para penerima manfaat, serta memberikan motivasi kepada keluarga pendamping.

 

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Pos Kesehatan Jiwa (Poskeswa) Mergo Waras binaan Puskesmas Dukuhklopo. Bersama Poskeswa Mantap Jiwa di Kecamatan Sumobito, tempat ini menjadi ruang inklusif bagi penyandang disabilitas psikososial untuk menjalani rehabilitasi sosial, terapi, pelatihan keterampilan, hingga pendampingan usaha mandiri.

 

Di Poskeswa tersebut, para penerima manfaat disapa dengan sebutan “para tersayang”, akronim dari Terabaikan Kasih Sayang di Saat Jiwanya Goyang.

 

“Bagi saya, sebutan itu mengingatkan kita semua bahwa setiap orang membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan penerimaan, terutama ketika sedang menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya,” ujar Fatma.

 

Menurut Fatma, makna sebutan tersebut tidak boleh berhenti sebagai julukan semata. Sebaliknya, istilah itu menjadi pengingat bahwa tidak boleh ada warga yang terabaikan hanya karena kondisi kesehatan jiwa atau disabilitas yang dimilikinya.

 

“Mereka adalah bagian utuh dari masyarakat yang memiliki hak setara untuk bekerja, belajar, berkarya, dan hidup bermartabat,” tegasnya.

 

Fatma juga mengapresiasi proses pemulihan di Poskeswa yang tidak hanya berfokus pada pengobatan medis, tetapi juga mendorong kemandirian melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI). Program tersebut mengintegrasikan pemenuhan kebutuhan dasar, terapi, bantuan kewirausahaan, hingga pemberdayaan ekonomi.

 

Sebagai bentuk dukungan, DWP Kemensos bersama Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta menyalurkan bantuan ATENSI senilai Rp82.496.521 kepada 22 penerima manfaat, terdiri atas 21 penyandang disabilitas dan satu kelompok rentan.

 

Bantuan yang diberikan meliputi dua unit kursi roda standar, satu unit kursi roda adaptif untuk penyandang cerebral palsy, serta empat unit sepeda adaptif. Selain itu, sebanyak 15 penerima manfaat memperoleh bantuan kewirausahaan yang disesuaikan dengan potensi masing-masing.

 

Jenis usaha yang didukung beragam, mulai dari usaha tambal ban, warung makan dan warung kopi, produksi telur asin, kerajinan tas macrame, mebel dan jaranan, hingga usaha penjualan pakaian.

 

“Jangan pandang bantuan ini sebagai tujuan akhir. Jadikan ini pemantik semangat untuk terus melangkah menuju kemandirian dan peningkatan kualitas hidup,” pesan Fatma kepada para penerima manfaat.

 

Selain penyerahan bantuan dan peninjauan ruang produksi, kegiatan bakti sosial tersebut juga menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang dimanfaatkan sekitar 100 peserta, termasuk kader Posyandu.

 

Kegiatan ini turut dihadiri Penasihat dan Ketua DWP Kabupaten Jombang, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Kesehatan, jajaran Pemerintah Kabupaten Jombang, serta perwakilan Kementerian Sosial. Kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat diharapkan terus memperkuat pemberdayaan kelompok rentan agar semakin mandiri dan produktif. (*)