LifestylePariwisata

ITB Angkat Potensi Batik Kampung Payung-Payung

6
×

ITB Angkat Potensi Batik Kampung Payung-Payung

Sebarkan artikel ini

Bandung, Warganet – Institut Teknologi Bandung (ITB) terus mendorong penguatan ekonomi masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) melalui pengembangan batik lokal di Kampung Payung-Payung, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Program tersebut diharapkan mampu menjadikan batik sebagai produk kreatif yang mendukung pariwisata berkelanjutan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.

Mengutip situs resmi Institut Teknologi Bandung (ITB), program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) skema Desa Binaan dan Wilayah 3T tersebut mengusung tema “Penguatan Ekonomi Lokal Berbasis Integrasi Pertanian dan Pelestarian Budaya Batik untuk Mendukung Pariwisata Berkelanjutan di Kampung Payung-Payung, Maratua.” Kampung Payung-Payung sebelumnya telah menjadi desa binaan ITB di bidang pertanian, kemudian pendampingan diperluas melalui pengembangan batik lokal.

Program ini merupakan kolaborasi dosen dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), serta Sekolah Farmasi (SF) yang diketuai Dr. Mia Rosmiati bersama tim lintas disiplin dan dua mahasiswa.

Ketua tim, Dr. Mia Rosmiati, mengatakan program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pengembangan keterampilan berbasis budaya lokal yang memiliki nilai ekonomi.

“Fokusnya adalah meningkatkan kapasitas masyarakat, terutama keterampilan membatik sebagai produk yang memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Menurutnya, batik memiliki potensi menjadi produk unggulan Maratua yang tidak hanya memperkuat identitas budaya lokal, tetapi juga mendukung sektor pariwisata sekaligus membuka peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat.

Pendampingan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama pada 22–26 Januari 2026 berfokus pada pelatihan dasar membatik, mulai dari perancangan motif, pembuatan sketsa, teknik mencanting, pewarnaan kain dengan metode celup dan colet, hingga proses pelorodan. Peserta juga dikenalkan dengan pemanfaatan tanaman sebagai sumber pewarna alami yang diintegrasikan dengan potensi pertanian setempat.

Tahap kedua yang berlangsung pada 17–20 Juli 2026 menitikberatkan pada penguatan aspek keberlanjutan melalui pelatihan pengelolaan limbah produksi batik, serta pembekalan mengenai pemasaran digital, branding, labelling produk, fotografi produk, dan penyusunan materi promosi.

Selain meningkatkan keterampilan membatik, tim PPM ITB juga mengevaluasi proses produksi bersama masyarakat untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus mengeksplorasi teknik baru dalam pengembangan batik lokal.

Salah seorang peserta pelatihan, Helin, mengaku mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti program tersebut.

“Awalnya kami kira membatik itu sulit, ternyata jika diajari pelan-pelan bisa juga. Dari menggambar sampai mewarnai, kami jadi tahu caranya. Senang rasanya bisa buat batik sendiri. Mudah-mudahan ke depan bisa terus jalan dan jadi tambahan penghasilan ibu-ibu di kampung,” tuturnya.

Melalui program ini, ITB berharap Kampung Payung-Payung semakin berkembang sebagai destinasi wisata yang tidak hanya dikenal karena potensi wisata baharinya, tetapi juga melalui produk kreatif berbasis integrasi pertanian dan budaya lokal yang mampu memperkuat perekonomian masyarakat secara berkelanjutan.