Episode 2
Lelaki yang Tak Meninggalkan Jejak
Warganet – Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat celah jendela. Alya terbangun di sofa ruang tengah, selimut menutup setengah tubuhnya. Kepalanya berat, seperti habis menangis semalaman.
Ia menoleh ke jam dinding.
07.12
Jam itu berdetak normal.
Alya bangkit, menatap cermin besar di dinding. Bayangannya sendiri yang terlihat—tak ada sosok lain, tak ada senyum samar, tak ada aroma melati.
“Cuma mimpi,” gumamnya.
Namun saat ia melangkah ke dapur, kakinya berhenti.
Di atas meja, ada secangkir teh hangat. Uapnya masih mengepul.
Alya menelan ludah. Ia yakin semalam tidak membuat teh.
Hari itu ia mencoba menjalani hidup seperti biasa. Membersihkan rumah, menata buku, membuka jendela-jendela yang selama ini tertutup. Anehnya, udara rumah terasa lebih ringan—tidak sesuram yang ia bayangkan saat pertama datang.
Sore menjelang, Alya duduk di teras. Angin membawa aroma tanah basah dan… melati.
“Jangan takut,” suara itu datang lagi. Lebih jelas kali ini.
Alya menoleh.
Senja berdiri di bawah pohon mangga, mengenakan kemeja putih sederhana. Kali ini wajahnya lebih nyata. Matanya teduh, tapi menyimpan kesedihan yang dalam.
“Kau nyata?” tanya Alya lirih.
Senja tersenyum kecil. “Aku ada. Tapi tidak seperti yang kau pahami.”
Alya seharusnya lari. Logikanya berteriak agar ia menjauh. Tapi hatinya justru melangkah lebih dekat.
“Kenapa aku?” tanyanya.
“Karena kau mendengar,” jawab Senja. “Kebanyakan orang hanya merasa takut.”
Mereka duduk berhadapan, dipisahkan jarak satu langkah yang terasa seperti jurang. Senja tidak menyentuhnya. Bahkan angin pun tak bergerak di sekelilingnya.
“Kau tidak boleh keluar rumah ini setelah jam tiga pagi,” kata Senja tiba-tiba. “Apa pun yang kau dengar.”
Alya mengernyit. “Apa yang akan terjadi?”
Senja menunduk. Untuk pertama kalinya, wajahnya terlihat rapuh.
“Ada yang juga menunggu di jam itu,” katanya pelan. “Dan ia tidak mencintaimu seperti aku.”
Dada Alya bergetar.
“Kau… mencintaiku?”
Senja mengangkat wajahnya. Senyumnya kali ini bukan senyum bahagia—melainkan senyum seseorang yang tahu cintanya punya batas waktu.
“Sejak kau membuka pagar rumah ini.”
Langit menggelap. Senja mulai memudar, seperti cahaya sore yang ditelan malam.
“Alya,” katanya sebelum menghilang, “jika suatu hari aku tidak muncul lagi… jangan mencariku.”
Sunyi kembali menyelimuti rumah.
Di tangannya, Alya menyadari sesuatu.
Ada jejak jari di pergelangan tangannya, dingin, pucat, dan bukan miliknya.
Jam dinding berdetak lebih pelan dari biasanya.
02.58




