Cerpen

Di Antara Jam Tiga Dini Hari

11
×

Di Antara Jam Tiga Dini Hari

Sebarkan artikel ini

Episode 3

Yang Tidak Pernah Pergi

Warganet – Jam dinding berbunyi pelan.

Tok. Tok. Tok.

Alya terjaga sebelum matanya benar-benar terbuka. Udara di rumah terasa berat, seperti ada sesuatu yang menindih dadanya. Lampu ruang tengah mati. Hanya cahaya bulan yang menetes dari jendela.

Ia menoleh ke jam dinding.

03.01

“Tidak…” bisiknya.

Alya duduk perlahan, mengingat pesan Senja. Jangan keluar rumah setelah jam tiga pagi.

Namun dari arah dapur, terdengar suara air menetes. Teratur. Seperti seseorang mencuci tangan.

Tok… tok… tok…

Alya memejamkan mata, berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya pipa bocor. Tapi kemudian terdengar suara lain—lebih pelan, lebih dekat.

Napas.

Bukan napasnya.

“Alya…”

Suaranya serak, seperti berasal dari tenggorokan yang lama terendam air.

Alya bangkit. Kakinya melangkah sendiri menuju dapur, meski pikirannya menjerit agar berhenti. Setiap langkah terasa dingin, seolah lantai menyerap panas tubuhnya.

Di ambang pintu dapur, ia melihat bayangan.

Seorang perempuan berdiri membelakanginya. Rambutnya panjang, basah, menempel di punggung. Gaun putihnya meneteskan air hitam ke lantai.

“Kau bukan Senja,” kata Alya gemetar.

Perempuan itu perlahan menoleh.

Wajahnya rusak.

Separuh pipinya seperti terbakar, matanya kosong, berlubang hitam. Bibirnya tersenyum terlalu lebar.

“Aku yang dulu menunggu dia,” katanya lirih. “Sekarang giliranmu.”

Alya mundur, tapi punggungnya membentur dinding. Udara membeku. Ia tak bisa berteriak.

“Senja!” jeritnya dalam hati.

Lampu berkedip.

Sosok Senja muncul di antara mereka, wajahnya pucat, matanya dipenuhi kepanikan.

“Jangan dengarkan dia!” teriak Senja. “Tutup matamu!”

Perempuan itu tertawa. Suaranya seperti kaca pecah diseret di lantai.

“Kau masih berani mencintai?” katanya pada Senja. “Padahal karena cintamu, aku mati di rumah ini.”

Alya terengah. “Apa maksudnya?”

Senja menoleh padanya. Untuk pertama kalinya, ia menangis.

“Aku gagal menyelamatkannya,” kata Senja. “Dan aku juga tidak boleh menyelamatkanmu.”

Tangannya terulur ke arah Alya, tapi berhenti di udara—tak pernah menyentuh.

Perempuan itu mendekat. Bau tanah basah dan darah memenuhi ruangan.

“Jam tiga adalah milikku,” bisiknya ke telinga Alya. “Siapa pun yang dicintai Senja, akan kuambil.”

Jam dinding berdentang keras.

03.07

Lampu padam total.

Alya menjerit.

Ia terbangun di lantai ruang tengah saat matahari mulai muncul. Tubuhnya menggigil, tenggorokannya perih. Rumah kembali sunyi, seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Namun di lantai dapur, ada genangan air hitam yang belum kering.

Dan di cermin, tertulis dengan uap:

JANGAN MENCINTAINYA

Alya menatap bayangannya sendiri—dan di belakangnya, samar, Senja berdiri.

Wajahnya penuh luka.

“Alya,” katanya pelan, “jika kau terus bertahan di sini… kau akan mati.”

Air mata Alya jatuh.

“Kalau aku pergi,” bisiknya, “apa yang terjadi padamu?”

Senja tersenyum, senyum paling menyakitkan yang pernah ia lihat.

“Aku akan hilang untuk selamanya.”

Jam berdetak pelan.

02.59

Alya harus memilih.

Cerpen

Episode 2 Lelaki yang Tak Meninggalkan Jejak Warganet – Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat celah jendela. Alya terbangun di sofa ruang tengah, selimut menutup setengah tubuhnya. Kepalanya…

Cerpen

Episode 1 Rumah yang Tak Pernah Tidur Warganet – Rumah itu berdiri paling ujung, setelah kebun karet dan jalan tanah yang tak lagi dilalui kendaraan umum. Catnya mengelupas, pagar besinya…