Episode 4
Harga yang Harus Dibayar
Warganet – Alya duduk di lantai kamar dengan punggung bersandar ke pintu. Pagi belum benar-benar datang, tapi jam dinding sudah berhenti berdetak.
Jarumnya patah di angka 03.00.
Rumah itu tidak ingin waktu berjalan lagi.
“Aku tidak mau kau pergi,” kata Alya lirih, menatap Senja yang berdiri di dekat jendela. Wajahnya makin samar, seperti disapu kabut.
“Aku tidak punya pilihan,” jawab Senja pelan. “Sejak kau melihatku, hitungannya sudah dimulai.”
Alya bangkit. “Aku bisa pergi dari rumah ini. Kita pergi bersama.”
Senja tersenyum pahit. “Aku tidak terikat pada rumah ini. Aku terikat pada jam tiga.”
Senja akhirnya menceritakan semuanya.
Dulu, ia mencintai seorang perempuan bernama Ratna. Mereka tinggal di rumah itu, merencanakan masa depan yang sederhana. Namun setiap pukul tiga dini hari, Ratna sering terbangun—mengaku mendengar seseorang memanggil namanya dari dapur.
Senja mengira itu hanya mimpi.
Sampai suatu malam, Ratna menjawab panggilan itu.
Ia ditemukan keesokan harinya, tewas tenggelam di bak air, dengan jam dinding berhenti tepat di pukul 03.07.
“Aku mencintainya,” kata Senja, suaranya pecah. “Dan karena aku mencintainya, makhluk itu menandainya.”
Alya menutup mulutnya menahan tangis.
“Setiap kali aku mencoba mencintai lagi,” lanjut Senja, “ia datang. Mengambil orang yang kupilih.”
Malam kembali jatuh.
Jam dinding yang rusak tiba-tiba berdetak sendiri.
02.58
Udara menghitam. Bau air basi memenuhi rumah. Dinding berembun.
Perempuan bergaun putih muncul dari sudut lorong, wajahnya lebih rusak dari sebelumnya. Senyumnya lebar, puas.
“Waktunya memilih,” katanya. “Kau pergi, atau dia.”
Alya menggenggam tangan Senja. Untuk pertama kalinya, tangannya terasa hangat.
“Apa yang terjadi jika aku memilihmu?” tanya Alya.
Senja menunduk. “Kau akan mati malam ini.”
Air mata Alya jatuh ke lantai.
“Dan jika aku memilih pergi?”
Senja mengangkat wajahnya. Matanya penuh cinta dan keputusasaan.
“Aku akan sendirian selamanya.”
Jam berdentang.
03.00
Perempuan itu mendekat. Lantai dipenuhi air. Dinding berdenyut seperti jantung.
Alya memejamkan mata.
“Aku memilih hidup,” katanya sambil terisak. “Maafkan aku.”
Senja tersenyum-senyum paling lembut yang pernah ia berikan.
“Terima kasih,” bisiknya. “Karena mencintaiku… meski hanya sebentar.”
Ia mendorong Alya keluar pintu depan.
Lampu menyala terang.
Alya terjatuh di halaman rumah. Ketika ia menoleh kembali—
Rumah itu kosong.
Tua.
Tak berpenghuni.
Tak ada jejak air. Tak ada jam dinding. Tak ada Senja.
Beberapa bulan kemudian, Alya pindah kota.
Namun setiap malam, tepat pukul 03.00, ia selalu terbangun dengan dada sesak.
Di cermin kamarnya, kadang muncul tulisan samar:
TERIMA KASIH TELAH MEMILIH HIDUP
Dan di balik bayangannya, Senja berdiri—tersenyum tanpa luka.
Namun matanya kosong.
Seperti seseorang yang telah ditinggalkan oleh dunia.




