Cerpen

Di Antara Jam Tiga Dini Hari

9
×

Di Antara Jam Tiga Dini Hari

Sebarkan artikel ini

Episode 5 (Final)

Ketika Jam Tidak Lagi Berdetak

Warganet – Alya terbangun tanpa mimpi.

Itu yang membuatnya gelisah.

Biasanya, setiap pukul tiga dini hari, ia selalu bermimpi tentang rumah tua itu—tentang tangga berderit, bau melati yang membusuk, dan Senja yang berdiri di depan cermin. Namun malam ini tidak ada apa-apa.

Ia melirik jam di meja.

02.59

Dadanya terasa berat.

Ia bangkit dan duduk di tepi ranjang. Udara kamar dingin, terlalu dingin untuk kota sekecil ini. Lampu tidur berkedip pelan.

Klik.

Lampu mati.

Alya menelan ludah.

Ia berdiri dan berjalan ke arah cermin. Bayangannya terlihat biasa. Terlalu biasa.

Namun saat jarum jam bergerak

03.00

Cermin berembun.

Tulisan muncul perlahan, seperti digores dari sisi lain kaca.

KAU MASIH INGAT JANJIMU?

Alya menggeleng. “Aku tidak pernah berjanji apa pun.”

Tulisan itu menghapus dirinya sendiri.

Kemudian muncul kalimat baru.

KAU MEMILIH HIDUP.
SEKARANG AKU MEMILIH KEMBALI.

Alya mundur selangkah.

Dari pantulan cermin, sesosok bayangan muncul di belakangnya. Bukan Senja. Bukan pula perempuan bergaun putih.

Bayangan itu menyerupai Alya sendiri—namun matanya hitam, dan senyumnya terlalu lebar.

“Kau sudah bebas,” kata bayangan itu dengan suara yang sangat mirip dengannya. “Sekarang giliranku tinggal.”

Lantai berdenyut.

Alya merasakan kepalanya pusing. Kenangan tentang rumah itu berkelebat cepat—terlalu cepat—seperti sedang dicabut dari ingatannya.

“Apa yang kau inginkan?” bisiknya.

Bayangan itu mendekat ke permukaan kaca.

“Tempat,” jawabnya singkat. “Dan waktu.”

Jam di meja jatuh ke lantai.

Berdetak.

Berdetak.

Berdetak.

Berhenti.

Alya terjatuh berlutut.

Saat ia mengangkat kepala, cermin kembali jernih. Tidak ada tulisan. Tidak ada bayangan.

Lampu menyala.

Jam menunjukkan 03.01.

Segalanya terlihat normal.

Pagi harinya, tetangga melihat Alya keluar rumah dengan wajah pucat. Ia tersenyum, tapi senyumnya terasa… kosong.

Saat ditanya namanya, ia terdiam sejenak.

“Ratna,” jawabnya akhirnya, pelan namun yakin.

Di kota lain, sebuah rumah tua kembali disewakan.

Murah.

Terawat.

Jam dindingnya baru.

Dan setiap pukul 03.00, lampu ruang tengah selalu menyala sendiri.

(Tamat)

Cerpen

Episode 4 Harga yang Harus Dibayar   Warganet – Alya duduk di lantai kamar dengan punggung bersandar ke pintu. Pagi belum benar-benar datang, tapi jam dinding sudah berhenti berdetak. Jarumnya patah…

Cerpen

Episode 3 Yang Tidak Pernah Pergi Warganet – Jam dinding berbunyi pelan. Tok. Tok. Tok. Alya terjaga sebelum matanya benar-benar terbuka. Udara di rumah terasa berat, seperti ada sesuatu yang…

Cerpen

Episode 2 Lelaki yang Tak Meninggalkan Jejak Warganet – Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat celah jendela. Alya terbangun di sofa ruang tengah, selimut menutup setengah tubuhnya. Kepalanya…

Cerpen

Episode 1 Rumah yang Tak Pernah Tidur Warganet – Rumah itu berdiri paling ujung, setelah kebun karet dan jalan tanah yang tak lagi dilalui kendaraan umum. Catnya mengelupas, pagar besinya…