Bagian 1
Warganet – Hujan turun pelan di kota Palembang sore itu, seolah sengaja memperlambat langkah siapa pun yang ingin pulang. Raka duduk di bangku kayu halte, menatap layar ponselnya yang tak berhenti menyala. Satu nama muncul berulang kali di notifikasi—Nara.
“Sudah sampai stasiun?”
Pesan itu datang tepat pukul 17.46.
Raka tersenyum tipis. Ia belum membalas. Bukan karena tak ingin, melainkan karena ingin menunda rasa rindu yang sudah menumpuk sejak pagi. Nara ada di Bandung, ratusan kilometer jauhnya. Mereka dipisahkan jarak, waktu, dan kesibukan namun dipertemukan oleh sesuatu yang tak pernah direncanakan: sebuah obrolan singkat di kolom komentar, dua tahun lalu.
Awalnya biasa saja. Tentang buku, tentang musik, tentang kopi favorit. Tak ada yang menyangka obrolan itu akan menjelma menjadi kebiasaan, lalu kebutuhan.
Raka mengingat malam pertama mereka berbincang lewat panggilan suara. Sunyi di kosannya terasa berbeda saat suara Nara hadir—hangat, tenang, dan entah bagaimana, terasa seperti rumah.
“Kalau suatu hari kita ketemu, kamu masih akan ngobrol selama ini?” tanya Nara waktu itu.
Raka tertawa kecil. “Kalau ketemu, mungkin aku malah kehabisan kata.”
Kini, dua tahun berlalu, pertanyaan itu masih menggantung. Mereka belum pernah bertemu.
Raka akhirnya membalas pesan itu.
“Sudah. Kamu gimana? Lembur lagi?”
Tak lama, balasan datang.
“Iya. Kota kamu hujan, ya? Di sini dingin tapi nggak hujan.”
Raka menatap langit kelabu. Ia selalu heran bagaimana Nara bisa tahu hal-hal kecil tentang harinya, meski tak berada di kota yang sama. Mereka saling mengirim potongan hidup—foto senja, suara hujan, cerita lelah, dan tawa singkat sebelum tidur.
Namun belakangan, ada sesuatu yang berubah. Pesan-pesan tak lagi secepat dulu. Panggilan sering tertunda. Raka tak bodoh, ia tahu, jarak sering kali lebih jujur daripada kata-kata.
Di balik layar ponsel itu, Raka bertanya pada dirinya sendiri:
apakah cinta cukup kuat untuk menunggu, atau jarak hanya cara halus untuk saling menjauh?
Sementara di Bandung, Nara menutup laptopnya, memandangi jendela kos yang basah oleh embun. Ia memegang ponsel, membaca ulang pesan Raka. Ada rindu yang ingin diucapkan, tapi ditahan. Ada pertemuan yang diimpikan, tapi belum berani direncanakan.
Malam itu, dua kota bernafas berbeda.
Satu hati menunggu jawaban.
Satu hati takut bertanya.
Dan jarak diam-diam menjadi saksi.


