Cerpen

Jarak yang Belajar Menunggu

24
×

Jarak yang Belajar Menunggu

Sebarkan artikel ini

Bagian 2

Warganet – Waktu adalah sesuatu yang tak pernah benar-benar sama bagi dua orang yang terpisah jarak. Bagi Raka, satu hari tanpa kabar terasa panjang. Bagi Nara, satu hari bisa berlalu tanpa sempat membuka percakapan yang sama sekali belum selesai.

Pagi itu, Raka terbangun dengan satu pesan tertunda.
Dikirim pukul 01.12.

“Maaf aku ketiduran.”

Tak ada emoji. Tak ada penjelasan lain.

Raka menatap layar cukup lama sebelum akhirnya meletakkan ponsel kembali ke meja. Dulu, satu pesan maaf selalu diikuti cerita panjang—tentang lelah, tentang hari yang berat, tentang rindu. Kini, kalimat itu berdiri sendiri, seperti dinding tipis yang pelan-pelan tumbuh.

Siang harinya, Raka memberanikan diri menelepon. Nada sambung berdering lama, lalu terputus. Ia mencoba lagi malamnya. Kali ini terangkat.

“Halo,” suara Nara terdengar cepat, seolah sedang terburu-buru.
“Kamu sibuk?” tanya Raka.
“Sedikit. Lagi bareng teman.”

Raka mengangguk, meski tahu Nara tak bisa melihatnya. Ada jeda yang canggung. Dulu, hening adalah ruang aman mereka. Sekarang, hening terasa seperti jarak tambahan.

“Oh ya,” kata Nara akhirnya, “minggu depan aku mungkin susah dihubungi.”

“Kenapa?”
“Ada proyek baru. Intens.”

Raka ingin bertanya lebih jauh. Ingin mengatakan bahwa ia mulai merasa ditinggalkan. Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Ia takut terdengar menuntut, takut dianggap tak mengerti.

“Oke,” katanya singkat.

Setelah panggilan berakhir, Raka duduk lama di tepi tempat tidur. Ia membuka galeri ponselnya, foto-foto tangkapan layar percakapan lama, voice note Nara yang masih ia simpan, tawa yang kini terdengar asing.

Untuk pertama kalinya, Raka bertanya:
apakah ia masih menunggu orang yang sama, atau hanya kenangan tentangnya?

Di kota lain, Nara menatap ponselnya dengan perasaan yang tak kalah berat. Proyek baru itu nyata, tapi bukan satu-satunya alasan. Ada seseorang di kantor yang mulai sering menemaninya pulang. Tak ada yang spesial—setidaknya begitu yang ia yakini. Namun perhatian kecil itu terasa berbeda karena hadir secara nyata, tanpa layar.

Nara tahu, jarak membuat segalanya mudah disalahartikan. Ia juga tahu, Raka terlalu baik untuk menuntut apa pun.

Malam itu, Nara mengetik pesan panjang. Menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus lagi.
Akhirnya, ia hanya mengirim satu kalimat:

“Kita baik-baik saja, kan?”

Raka membacanya beberapa menit kemudian. Ia tersenyum pahit.
“Baik-baik saja” terdengar seperti pertanyaan, bukan pernyataan.

Ia membalas:
“Selama kamu masih di sini, aku pikir kita baik.”

Pesan itu terkirim. Dibaca.
Tak langsung dibalas.

Dan untuk pertama kalinya, Raka menyadari, menunggu tak selalu berarti setia. Kadang, menunggu hanyalah menunda luka yang sudah di depan mata.