Bagian 3
Warganet – Hari-hari berlalu seperti pesan yang tak kunjung terkirim. Raka berhenti menghitung berapa kali ia membuka ruang chat Nara tanpa menulis apa pun. Ia hanya membaca, tanggal, jam, dan kalimat terakhir yang menggantung seperti janji yang lupa ditepati.
“Kita baik-baik saja, kan?”
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Suatu malam, Raka menerima pesan yang berbeda dari biasanya.
Bukan tentang lelah. Bukan tentang rindu.
“Aku mau jujur.”
Raka membeku. Hujan kembali turun di Palembang, persis seperti hari ketika ia mulai jatuh cinta pada suara di seberang layar.
“Ada seseorang di sini,” lanjut pesan itu. “Aku nggak merencanakannya. Tapi aku juga nggak bisa bohong.”
Raka memejamkan mata. Dadanya sesak, bukan karena terkejut, melainkan karena ia sudah menyiapkan dirinya untuk kalimat itu sejak lama.
“Dia baik?” balas Raka, singkat.
“Baik,” jawab Nara. “Dan nyata.”
Kata itu menusuk lebih dalam daripada yang Raka bayangkan.
Nyata.
Raka berjalan ke jendela, menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca yang basah. Ia teringat semua janji yang tak pernah diucapkan, semua pertemuan yang selalu ditunda dengan alasan “nanti kalau waktunya tepat”.
“Kamu bahagia?”
Pertanyaan itu dikirim dengan tangan gemetar.
Nara lama membalas.
“Aku masih bingung.”
Raka tersenyum kecil. Cinta jarak jauh selalu memberi harapan pada kata “bingung”, seolah kebingungan berarti masih ada ruang. Namun malam itu, Raka memilih jujur pada dirinya sendiri.
“Aku capek menunggu,” tulisnya. “Bukan karena kamu salah. Tapi karena aku terus berharap sendirian.”
Di Bandung, Nara menatap layar ponselnya dengan mata berkaca. Ia ingin berkata jangan pergi. Ingin mengatakan Raka adalah rumah yang selalu ia rindukan. Namun ia sadar, rumah tak seharusnya membuat seseorang berdiri di ambang pintu terlalu lama.
“Aku minta maaf,” balasnya. “Kamu pantas dapat lebih dari sekadar pesan.”
Pesan terakhir Raka terkirim beberapa detik kemudian.
“Terima kasih sudah pernah memilihku, meski sebentar.”
Tak ada balasan setelah itu.
Malam menelan dua kota yang sama-sama sunyi. Tak ada yang benar-benar kalah, namun tak ada pula yang menang. Jarak tak pernah jahat—ia hanya jujur, menunjukkan siapa yang mampu bertahan dan siapa yang harus melepaskan.
Di antara rindu dan kenyataan, Raka belajar satu hal:
tidak semua yang kita cintai harus kita miliki.
Dan Nara, untuk pertama kalinya, memahami bahwa kehilangan pun bisa menjadi cara mencintai. (*)


