Cerpen

Jarak yang Belajar Menunggu

17
×

Jarak yang Belajar Menunggu

Sebarkan artikel ini

Bagian 4

 

Warganet – Waktu tidak serta-merta menghapus rasa. Ia hanya menenangkannya, mengajarkan cara bernapas tanpa menyebut nama yang sama setiap hari.

Tiga bulan berlalu sejak pesan terakhir itu. Raka kembali menjalani hidupnya—bekerja, tertawa, bahkan sesekali jatuh lelah tanpa tempat bercerita. Ia belajar satu hal penting: mencintai diri sendiri bukan berarti melupakan, melainkan berdamai.

Suatu sore, ketika matahari Palembang turun perlahan di balik jembatan, ponselnya bergetar.

Satu nama yang tak ia hapus.
Nara.

“Aku di Palembang.”

Raka membaca pesan itu berulang kali, memastikan ia tidak sedang membayangkan. Jemarinya gemetar saat membalas.

“Sejak kapan?”

“Baru satu jam lalu. Aku cuma ingin bertemu. Kalau kamu mau.”

Tidak ada janji. Tidak ada tuntutan. Hanya pertemuan.

Mereka bertemu di sebuah kedai kopi kecil dekat Sungai Musi. Tak ada pelukan di awal, hanya senyum kikuk dan tatapan yang saling memastikan, ini nyata.

“Aku putus,” kata Nara pelan setelah beberapa menit. “Bukan karena kamu. Tapi karena aku sadar… aku selalu pulang ke namamu.”

Raka menunduk. Dadanya bergetar, bukan oleh marah, tapi lega.

“Aku takut datang terlambat,” lanjut Nara. “Takut kamu sudah selesai.”

Raka tersenyum. “Aku hampir selesai. Tapi mungkin… belum benar-benar.”

Mereka tertawa kecil. Tawa yang dulu hanya terdengar lewat panggilan suara, kini hadir tanpa jeda.

Malam semakin larut. Hujan turun tipis, seperti malam pertama mereka berbincang bertahun lalu. Bedanya, kali ini tak ada layar yang memisahkan.

“Kita nggak perlu janji besar,” kata Raka. “Cukup jujur, dan bertemu saat rindu.”

Nara mengangguk. “Dan kalau jarak datang lagi?”

“Kita hadapi. Bersama.”

Untuk pertama kalinya, jarak bukan ancaman. Ia hanya pilihan yang bisa dinegosiasikan.

Di antara dua kota yang pernah memisahkan, dua hati akhirnya belajar:
cinta tak selalu tentang siapa yang datang lebih cepat,
melainkan siapa yang berani kembali.

(Tamat)