Bagian 5
Satu Tahun Kemudian
Warganet – Pagi itu, Palembang cerah tanpa hujan. Sungai Musi mengalir tenang, memantulkan cahaya matahari yang jatuh lembut di permukaannya. Raka berdiri di tepi sungai, menunggu sambil menggenggam dua gelas kopi—satu tanpa gula, satu dengan sedikit susu. Kebiasaan kecil yang tak pernah berubah.
“Maaf lama,” suara itu datang dari belakang.
Raka menoleh. Nara tersenyum, rambutnya diikat sederhana, wajahnya lebih tenang dari yang pernah ia ingat.
“Kalau kamu datang, aku selalu sabar,” jawab Raka.
Setahun terakhir mengajarkan mereka banyak hal. Jarak masih ada kadang Palembang, kadang Bandung, namun tak lagi menakutkan. Mereka belajar merencanakan pertemuan, bukan sekadar menunggu. Belajar bertengkar tanpa menghilang. Belajar rindu tanpa curiga.
Mereka duduk berdampingan, menatap air yang terus mengalir.
“Kamu tahu,” kata Nara pelan, “dulu aku pikir cinta itu soal perasaan paling kuat.”
Raka mengangguk. “Ternyata soal siapa yang bertahan.”
Nara tersenyum. “Dan siapa yang berani kembali.”
Raka menggenggam tangan Nara. Tak erat, tak pula ragu, cukup untuk saling mengingatkan bahwa mereka ada di sini, sekarang.
Di ponsel Raka, sebuah pesan masuk dari kalender digital:
‘Anniversary: satu tahun memilih ulang.’
Mereka tertawa kecil.
Cinta mereka tak sempurna. Kadang lelah. Kadang berbeda pendapat. Namun satu hal pasti—tak ada lagi jarak yang dibiarkan diam terlalu lama.
Sungai terus mengalir. Waktu terus berjalan.
Dan kali ini, mereka melangkah searah.
(Selesai)


