Warganet – Raka dan Aline tidak pernah bertemu di dunia nyata.
Mereka bertemu di kolom komentar sebuah artikel opini tentang hujan dan kenangan. Raka menulis, “Hujan selalu mengingatkan saya pada seseorang yang belum pernah saya temui.”
Aline membalas, “Mungkin karena kamu sedang menunggu orang yang salah di tempat yang benar.”
Percakapan itu berlanjut. Dari debat receh soal kopi hingga diskusi serius tentang kehilangan. Mereka tidak pernah bertukar foto. Tidak pernah video call. Hanya kata-kata.
Aneh memang, tapi setiap malam mereka merasa pulang.
Suatu hari, Aline menghilang. Akunnya tak aktif. Pesan terakhirnya singkat:
“Kalau suatu hari kita bertemu, jangan kaget kalau aku bukan seperti yang kamu bayangkan.”
Tiga bulan kemudian, Raka menghadiri diskusi literasi di kotanya. Seorang pembicara perempuan berdiri di podium. Suaranya membuat jantung Raka berhenti.
Itu suara Aline.
Saat sesi tanya jawab, Raka berdiri.
“Apakah hujan masih mengingatkanmu pada seseorang yang belum pernah kamu temui?”
Perempuan itu terdiam. Lalu tersenyum.
“Tidak lagi,” jawabnya pelan. “Karena sekarang dia ada di ruangan yang sama.”
Dan untuk pertama kalinya, cinta mereka punya wajah.
bagian 1




