OKUS

PWNU Sumsel Sebut PCNU OKU Selatan sebagai Cabang Progresif, Berhasil Kembangkan Pendidikan dan Infrastruktur Organisasi

3
×

PWNU Sumsel Sebut PCNU OKU Selatan sebagai Cabang Progresif, Berhasil Kembangkan Pendidikan dan Infrastruktur Organisasi

Sebarkan artikel ini

Warganet — Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Selatan terus mengintensifkan konsolidasi organisasi hingga ke daerah.

Hal ini ditandai dengan kunjungan silaturahmi yang dirangkai dengan halalbihalal bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten OKU Selatan, sekaligus peluncuran program Naharul Ijtima sebagai penguatan gerakan keumatan.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis (23/04/2026) di Masjid Al-Hijra, Desa Sri Menanti, Kecamatan Buay Pemaca, Kabupaten OKU Selatan, dalam suasana khidmat dan penuh keakraban.

Acara ini dihadiri oleh Staf Ahli Bupati OKU Selatan Bidang Politik dan Pemerintahan Fery Wijaya, unsur pemerintah kecamatan, para kepala desa, kepala Kementrian haji dan umroh, serta beberapa kepala KUA di OKU Selatan. Serta jajaran, Kepolisian Sektor Buay Pemaca, dan jajaran pengurus PCNU OKU Selatan.

Ketua Tanfidziyah PCNU OKU Selatan, KH, Abdul Malik Ibrahim, S.H.I., menegaskan komitmen organisasinya dalam memperluas kontribusi nyata di tengah masyarakat.

Ia mengungkapkan, sejak berproses di Nahdlatul Ulama—mulai dari Ketua Pemuda Ansor hingga Sekretaris Tanfidziyah—berbagai langkah strategis telah diwujudkan, termasuk pendirian yayasan pendidikan sebagai investasi jangka panjang bagi umat.

Kami tidak hanya membangun organisasi, tetapi juga menanam fondasi peradaban melalui pendidikan dan pelayanan umat.

” Program-program keumatan akan terus kami perkuat dan perluas manfaatnya, ” tuturnya. ”

Ia juga menyampaikan, untuk kedepan, kegiatan seperti Naharul Ijtima setelah di laucing ini akan terus digerakan sampai ke rating, guna untuk terus menjaga silaturahmi dan menghidupkan organisasi, tampa kegiatan NU bukan lah apa -apa, ” tandasnya.

Pemerintah Kabupaten OKU Selatan, melalui Fery Wijaya, menyampaikan apresiasi atas kehadiran PWNU Sumatera Selatan. Ia menilai kegiatan ini tidak hanya mempererat ukhuwah, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk bertukar gagasan demi kemajuan daerah.

“ Kami menyambut baik silaturahmi ini. Kehadiran PWNU diharapkan mampu memberikan pencerahan serta masukan konstruktif bagi penguatan peran PCNU dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya dalam mewujudkan masyarakat yang bertakwa, cerdas, dan sejahtera,” katanya.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PWNU Sumatera Selatan, KH, Hendra Zainudin Al Qodiri, mengapresiasi capaian yang ditorehkan PCNU OKU Selatan. Ia menilai kepengurusan di daerah tersebut menunjukkan kinerja progresif dan terukur, khususnya dalam pengembangan lembaga pendidikan serta pembangunan infrastruktur organisasi.

Ketua PC NU OKU Selatan ini,  memeng sorang muharik,,atau penggerak NU sejati, sungguh sangat membanggakan NU punya kader seperti beliau.

Menurutnya, dari 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan, hanya sebagian kecil PCNU yang mampu mengintegrasikan pengelolaan yayasan pendidikan dengan kepemilikan sekretariat yang representatif—dan OKU Selatan termasuk di dalamnya.

“Ini bukan sekadar capaian administratif, melainkan indikator kematangan organisasi. Modal utama kita tetap pada soliditas, silaturahmi yang berkelanjutan, serta penghormatan kepada jajaran Syuriyah sebagai penjaga nilai dan arah keagamaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Hendra menjelaskan pembagian peran dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama. Tanfidziyah, kata dia, berfungsi sebagai penggerak sekaligus pemimpin dalam menjalankan roda organisasi.

Adapun Dewan Syuriyah merupakan majelis tertinggi dalam struktur organisasi yang berperan sebagai pengawas. Lembaga ini bertugas memberikan arahan, masukan, dan nasihat kepada Tanfidziyah.

Dalam analogi ketatanegaraan, posisi Syuriyah dapat disandingkan dengan lembaga tinggi negara seperti MPR, sementara Mustasyar berperan sebagai dewan penasihat.

Ia menegaskan, Dewan Syuriyah tidak menjalankan kegiatan operasional organisasi yang bersifat mobilisasi massa atau perkumpulan. Perannya terbatas pada pemberian arahan dan nasihat strategis kepada Tanfidziyah dalam menjalankan organisasi.

Sebaliknya, Tanfidziyah tetap berkewajiban melakukan koordinasi dengan Syuriyah setiap kali akan melaksanakan kegiatan, dalam bentuk apa pun.

Karena itu, ia mengingatkan agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam memaknai dua posisi tertinggi di tubuh NU tersebut. Sinergi dan saling menghormati peran menjadi kunci agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan.

“ Hal seperti ini kerap terjadi. Karena itu, perlu kami tegaskan kembali peran dan fungsi masing-masing agar dalam menjalankan organisasi, khususnya untuk kepentingan umat, tidak terjadi kekeliruan, ” ujarnya.

Kekompakan dan silaturahmi harus senantiasa dijaga dalam seluruh lapisan organisasi, mulai dari tingkat ranting, cabang, hingga badan otonom (banom), serta unsur organisasi lainnya.

Setiap kegiatan organisasi hendaknya dilaksanakan melalui koordinasi terlebih dahulu dengan PCNU. Kegiatan tanpa koordinasi tidak sesuai dengan ketentuan organisasi, karena organisasi ini memiliki aturan perkumpulan (perkum) dan etika yang harus dijunjung bersama. ”

Tanpa koordinasi, hal tersebut dapat menghambat jalannya organisasi, dan bisa menimbulkan peroecahan antar sesama pengurus. Karena, struktur organisasi telah tersusun dengan jelas, masing-masing memiliki peran, tanggung jawab, dan fungsi yang saling mendukung,” pungkasnya.

Peluncuran program Naharul Ijtima dalam kesempatan tersebut menjadi simbol penguatan gerakan kolektif NU di tingkat cabang, sekaligus diharapkan mampu menjadi motor penggerak kegiatan keagamaan dan sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Kegiatan ini menegaskan peran strategis Nahdlatul Ulama sebagai pilar moderasi, pemberdayaan umat, dan mitra pemerintah dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan berkeadaban. (SR)