Palembang

Ratu Dewa Matangkan Strategi Beautifikasi untuk Wujudkan Palembang yang Hijau, Bersih, dan Representatif

7
×

Ratu Dewa Matangkan Strategi Beautifikasi untuk Wujudkan Palembang yang Hijau, Bersih, dan Representatif

Sebarkan artikel ini

Warganet – Pemerintah Kota Palembang terus mematangkan arah penataan wajah kota melalui pendekatan yang lebih konseptual dan berkelanjutan.

Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, memimpin langsung rapat pembahasan Detail Engineering Design (DED) penataan kota dan program beautifikasi di Ruang Vidcon rumah dinas wali kota, Selasa (3/3/2026).

Rapat tersebut bukan sekadar forum pemaparan teknis, tetapi menjadi ruang diskusi strategis untuk memastikan bahwa setiap proyek fisik yang dibangun memiliki dasar filosofis, historis, serta memperkuat identitas lokal Palembang sebagai kota tertua di Indonesia yang terus bergerak menuju modernitas.

Dalam arahannya, Ratu Dewa menegaskan bahwa pembangunan ruang publik harus melampaui aspek estetika visual.

Menurutnya, wajah kota adalah representasi karakter dan jati diri masyarakatnya.

“Bangunan dan ruang publik yang kita hadirkan harus memiliki makna yang kuat. Ada filosofi, ada nilai sejarah, dan ada identitas Palembang di dalamnya,” tegasnya.

Sejumlah proyek strategis juga dibahas secara mendalam dalam rapat tersebut, antara lain, DED Jembatan dan Air Terjun Menari, Kambang Iwak, penataan Taman Kambang Iwak Kecik dan kawasan Siti Khadijah, penataan Keramasan Park.

Pembahasan juga mencakup penataan taman dan median jalan di sejumlah koridor utama kota.

Koridor yang menjadi prioritas meliputi Simpang Polda–Bandara Mas, Simpang Polda–Bundaran Air Mancur Masjid Agung, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Jalan DI Panjaitan, Jalan Rasyid Sidiq, hingga Jalan Wahid Hasyim.

Kawasan-kawasan ini dinilai memiliki nilai strategis karena menjadi pintu masuk, jalur utama mobilitas warga, sekaligus etalase kota bagi para pendatang.

Dalam diskusi yang berlangsung intens, Wali Kota Ratu Dewa juga meminta setiap rekanan dan pengembang memaparkan rencana secara komprehensif—mulai dari konsep desain arsitektural, estimasi anggaran, tahapan pengerjaan, hingga analisis dampak jangka panjang terhadap tata ruang dan lingkungan.

“Bangunan dan ruang publik yang kita hadirkan harus memiliki makna yang kuat. Ada filosofi, ada nilai sejarah, dan ada identitas Palembang di dalamnya,” ujar Dewa.

Beberapa DED bahkan diminta untuk direvisi agar lebih selaras dengan visi pembangunan kota yang berkarakter dan berkelanjutan.

Revisi tersebut mencakup penguatan unsur lokalitas dalam desain, harmonisasi lanskap dengan struktur eksisting, serta penyesuaian skala agar tetap proporsional dengan konteks ruang kota.

Langkah ini menunjukkan bahwa Pemkot Palembang tidak ingin terjebak pada pembangunan yang bersifat kosmetik atau sesaat, melainkan menghadirkan transformasi visual yang sistematis dan berdampak jangka panjang.

Membangun citra Citra kota bersejarah yang modern, lanjut Dewa, merupakan bagian integral dari strategi besar penguatan city branding Palembang.

Sebagai kota yang memiliki jejak sejarah panjang sejak era Sriwijaya, Palembang dituntut mampu memadukan warisan masa lalu dengan dinamika perkotaan modern.

Penataan ruang publik yang tertata, bersih, hijau, dan representatif akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat daya tarik wisata.

Keberadaan taman tematik, instalasi air, jembatan estetis, hingga median jalan yang tertata rapi diharapkan menciptakan pengalaman visual yang khas dan mudah dikenali.

“Program beautifikasi bukan sekadar memperindah tampilan fisik, melainkan bagian dari upaya memperkuat citra Palembang sebagai kota bersejarah yang modern, tertata, dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan,” pungkas Dewa. (*)