Nasional

Mengapa Gempa Kuat M6,7 di Sulawesi Tengah Tidak Memicu Tsunami? BMKG Ungkap Peran Sesar Sausu

5
×

Mengapa Gempa Kuat M6,7 di Sulawesi Tengah Tidak Memicu Tsunami? BMKG Ungkap Peran Sesar Sausu

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Warganet – Ketika gempa bumi magnitudo 6,7 mengguncang Sulawesi Tengah pada Senin (16/6), kekhawatiran masyarakat langsung tertuju pada satu hal: apakah tsunami akan menyusul?

Pertanyaan itu wajar. Indonesia berada di kawasan cincin api Pasifik yang kerap mengalami gempa bumi besar, bahkan beberapa di antaranya memicu gelombang tsunami yang merusak. Namun untuk gempa yang berpusat di wilayah Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan tidak ada potensi tsunami.

Lalu mengapa gempa yang tergolong kuat tersebut tidak memicu gelombang laut berbahaya? Jawabannya berkaitan dengan sumber gempa yang berasal dari aktivitas Sesar Sausu.

Mengenal Sesar Sausu, Pemicu Gempa M6,7 Sulawesi Tengah

Di bawah permukaan tanah Sulawesi Tengah, terdapat sejumlah patahan aktif yang terus bergerak mengikuti dinamika kerak bumi. Salah satunya adalah Sesar Sausu, patahan aktif yang disebut BMKG sebagai penyebab gempa M6,7 yang mengguncang wilayah Parigi Moutong dan sekitarnya.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan bahwa gempa terjadi pada pukul 10.27.44 WIB dengan kedalaman 16 kilometer. Episenternya berada pada koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan dan 120,24 derajat Bujur Timur atau sekitar 42 kilometer tenggara Palu.

Berdasarkan hasil analisis mekanisme sumber, gempa tersebut memiliki pola pergerakan turun atau normal fault. Dalam istilah sederhana, salah satu blok batuan bergerak turun relatif terhadap blok lainnya sehingga energi yang tersimpan di dalam bumi terlepaskan dan menimbulkan guncangan.

Mengapa Tidak Menimbulkan Tsunami?

Banyak orang mengira semua gempa besar otomatis memicu tsunami. Padahal, tidak demikian.

Tsunami umumnya terjadi apabila gempa menyebabkan perubahan besar pada dasar laut sehingga mampu mengangkat atau menurunkan kolom air dalam jumlah besar secara tiba-tiba. Selain magnitudo, faktor lain seperti lokasi pusat gempa, kedalaman, arah pergerakan sesar, serta deformasi dasar laut juga sangat menentukan.

Dalam kasus gempa Sulawesi Tengah, hasil pemodelan BMKG menunjukkan mekanisme gempa yang terjadi tidak cukup untuk memicu terbentuknya tsunami. Karena itu, sejak awal BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan gelombang laut berbahaya.

“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” ujar Nelly.

Pemantauan Muka Air Laut Tetap Dilakukan

Meski hasil analisis menunjukkan tidak ada ancaman tsunami, BMKG tetap melakukan pemantauan ketat melalui sejumlah stasiun pasang surut atau tide gauge yang berada di sekitar wilayah pusat gempa.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan hasil pemantauan menunjukkan kondisi perairan relatif stabil. Stasiun pemantau di Parigi dan Poso tidak mendeteksi adanya kenaikan muka air laut yang mengkhawatirkan.

Sementara sensor di Pelabuhan Pantoloan sempat mencatat kenaikan muka air laut sekitar 7,5 sentimeter. Namun BMKG menegaskan fluktuasi tersebut sangat kecil dan tidak membahayakan masyarakat.

Puluhan Gempa Susulan Masih Terjadi

Meski tidak memicu tsunami, gempa ini tetap menimbulkan dampak di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah. Guncangan terkuat dirasakan di Palolo, Kabupaten Sigi, dengan intensitas mencapai VII MMI. Wilayah Torue dan Parigi Selatan juga mengalami guncangan kuat pada skala VI hingga VII MMI.

BMKG mencatat hingga pukul 12.00 WIB telah terjadi 20 gempa susulan atau aftershock dengan magnitudo terbesar mencapai M5,2.

Menurut BMKG, gempa susulan merupakan fenomena yang lazim terjadi setelah gempa utama. Aktivitas tersebut muncul karena kerak bumi masih berupaya menyesuaikan diri menuju kondisi yang lebih stabil setelah pelepasan energi besar.

Tetap Waspada dan Hindari Informasi Hoaks

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi. Warga juga diminta menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa serta tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa besarnya magnitudo gempa tidak selalu berbanding lurus dengan potensi tsunami. Pada gempa M6,7 Sulawesi Tengah kali ini, karakteristik Sesar Sausu, mekanisme patahan normal, serta hasil pemodelan BMKG menunjukkan bahwa ancaman tsunami tidak terjadi, meskipun guncangan yang dirasakan masyarakat cukup kuat. (***) /Diolah dari rilis BMKG