Nasional

Musim Kemarau dan El Niño Tingkatkan Risiko Karhutla, BMKG Andalkan SPARTAN sebagai Alarm Dini Kondisi Hutan Kering

2
×

Musim Kemarau dan El Niño Tingkatkan Risiko Karhutla, BMKG Andalkan SPARTAN sebagai Alarm Dini Kondisi Hutan Kering

Sebarkan artikel ini

Warganet – Musim kemarau tahun ini bukan hanya soal langit tanpa hujan. Ada ancaman yang bekerja pelan tapi pasti di balik udara kering: potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat seiring pengaruh El Niño yang membuat kelembapan udara turun drastis di berbagai wilayah Indonesia.

BMKG menegaskan bahwa fokus utama saat ini bukan hanya mendeteksi api, tetapi membaca kesiapan alam untuk terbakar. Untuk itu, BMKG memperkuat sistem peringatan dini berbasis cuaca bernama SPARTAN (Sistem Peringatan Hutan dan Lahan), yang tidak sekadar menunjuk titik api, tetapi membaca kondisi yang membuat api bisa lahir dan menyebar.

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menegaskan pendekatan ini penting karena banyak kebakaran besar justru terjadi saat api belum muncul, namun “bahan bakarnya” sudah sangat siap terbakar.

SPARTAN bekerja seperti peta risiko yang membaca atmosfer dari berbagai sisi, suhu, kelembapan, curah hujan, hingga kecepatan angin. Semua parameter ini kemudian diolah menjadi tingkat bahaya kebakaran yang bisa meningkat diam-diam tanpa disadari masyarakat di permukaan.

Dalam penjelasannya, BMKG menekankan SPARTAN bukan alat deteksi hotspot, melainkan sistem yang membaca kondisi dapur alam sebelum api benar-benar menyala. Artinya, jika ada sumber api di tengah kondisi kering ekstrem, potensi kebakaran bisa meluas jauh lebih cepat.

Sistem ini juga mengadopsi pendekatan Fire Danger Rating System (FDRS) yang dikembangkan dari Fire Weather Index, lalu disesuaikan dengan karakter iklim Indonesia. Dari sini, muncul berbagai indikator seperti FFMC, DMC, DC hingga FWI yang menggambarkan tingkat kekeringan lapisan vegetasi dari permukaan hingga bawah tanah.

Jika disederhanakan, sistem ini seperti CT scan kondisi hutan, lapisan atas menunjukkan bahan kering ringan yang mudah terbakar, lapisan tengah menunjukkan akumulasi bahan organik, sementara lapisan bawah menggambarkan cadangan kekeringan jangka panjang yang paling berbahaya karena sulit dipadamkan.

BMKG juga menyoroti  api tidak bisa berdiri sendiri, karena lahir dari tiga unsur utama, yaitu panas, oksigen, dan bahan bakar kering, sementara SPARTAN hanya membaca dua di antaranya cuaca yang mengeringkan bahan bakar serta angin yang mempercepat penyebaran api. Satu unsur lain, yakni sumber pemantik, tetap bergantung pada aktivitas manusia atau faktor alam seperti petir.

Ketua Tim Analisis Satelit Cuaca dan Petir BMKG, Alpon Seriando, menambahkan kekuatan angin, kelembapan udara, suhu tinggi, dan minimnya hujan adalah kombinasi paling berbahaya yang sering muncul di puncak musim kemarau, terutama Juni hingga Agustus.

Di tengah meningkatnya risiko ini, BMKG mengingatkan  karhutla bukan hanya soal kebakaran hutan, tetapi juga krisis lanjutan, kabut asap, gangguan kesehatan, lumpuhnya transportasi, hingga tekanan ekonomi daerah.

Oleh karena  itu, SPARTAN diharapkan menjadi alarm awal yang bukan hanya dibaca pemerintah daerah, tapi juga dipahami publik luas, apalagi semakin cepat risiko dikenali, semakin besar peluang mencegah api sebelum sempat tumbuh menjadi bencana.

Untuk itu BMKG ingin menggeser cara pandang lama, dari sekadar memadamkan api menjadi membaca potensi sebelum api lahir, sebab dalam urusan karhutla, yang paling berbahaya sering kali bukan apinya, melainkan kondisi yang diam-diam sedang menunggu untuk terbakar. (***)