Cibinong, Warganet – Limbah dari sektor pangan dan perkebunan tak hanya dipandang sebagai sisa produksi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama mitra dari Jepang tengah mengembangkan teknologi yang memungkinkan limbah biomassa diolah menjadi biofuel dan biokimia bernilai tambah.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari pengembangan konsep bio-circular economy, yakni pendekatan yang mendorong pemanfaatan kembali sumber daya hayati secara berkelanjutan sekaligus mengurangi limbah dan emisi.
Melansir laman resmi BRIN, Kamis (13/8/2026), BRIN bersama mitra Jepang menggelar The 2nd Joint Coordinating Committee (JCC) Meeting SATREPS 2026 di Gedung B.J. Habibie National Center, Kawasan Sains dan Teknologi Dr. (H.C.) Ir. Soekarno, Cibinong, Rabu (5/8).
Pertemuan tersebut menjadi forum untuk mengevaluasi perkembangan proyek sekaligus menyusun strategi implementasi pengembangan bio-circular economy berbasis biomassa.
Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN sekaligus Project Director Indonesia, Andes Hamuraby Rozak, mengatakan pertemuan JCC menjadi forum strategis untuk memastikan proyek berjalan sesuai target.
“Melalui pertemuan ini kita meninjau perkembangan proyek, mengevaluasi rencana kerja, menyempurnakan Project Design Matrix (PDM) dan Plan of Operation (PO),” ujar Andes.
Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN Arthur Ario Lelono mengatakan proyek SATREPS menjadi salah satu bentuk kolaborasi internasional yang berkontribusi terhadap pengembangan bioenergi dan pencapaian target Net Zero Emissions Indonesia.
Melalui proyek tersebut, limbah biomassa diolah menjadi biofuel dan biokimia yang memiliki nilai tambah.
“Kolaborasi antara BRIN, universitas, industri, dan mitra Jepang diharapkan tidak hanya menghasilkan inovasi riset. Di samping itu juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas pada masa mendatang,” kata Arthur.
Dukungan juga diberikan Japan International Cooperation Agency (JICA). Senior Representative JICA Indonesia Office Akira Sato menyebut perkembangan proyek menunjukkan sinergi kuat antara peneliti Indonesia dan Jepang.
JICA turut mendukung implementasi proyek melalui penyediaan sejumlah peralatan penelitian, di antaranya High Performance Liquid Chromatography (HPLC), Gas Chromatography (GC), serta pengembangan mobile bioreactor.
Sementara itu, Research Supervisor Japan Science and Technology Agency (JST) Masaru Nakaiwa mengatakan proyek SATREPS tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan teknologi baru.
Menurutnya, proyek tersebut juga bertujuan membangun sistem bio-circular economy yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, sosial, dan ekonomi.
“Kami berharap hasil proyek ini dapat berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Menjadi salah satu solusi untuk menghadapi tantangan perubahan iklim global,” ujar Nakaiwa.
Project Director Japan Side dari Kobe University, Chiaki Ogino, menjelaskan proyek kini telah memasuki tahun ketiga pelaksanaan.
Fokusnya antara lain implementasi teknologi di lapangan melalui pengembangan mobile bioreactor, sekaligus mempersiapkan hilirisasi hasil riset menuju pembentukan startup berbasis inovasi.
Dalam kegiatan tersebut, BRIN dan konsorsium Jepang juga melaksanakan Signing Ceremony of Certificate of Handover the Project for the Development of Integrated Bio-circular Economy from Food and Energy Estate Waste Fraction to Biofuel and Bio-chemicals.
Penandatanganan dilakukan Andes Hamuraby Rozak bersama Chiaki Ogino sebagai simbol komitmen kedua pihak memperkuat implementasi proyek SATREPS.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk mengembangkan teknologi yang mampu memanfaatkan limbah dari sektor pangan dan perkebunan menjadi biofuel serta biokimia bernilai tambah.
Kepala Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Arif Nurkanto mengapresiasi kolaborasi antara lembaga riset, perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor industri.
Menurutnya, kerja sama lintas sektor menjadi modal penting untuk menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Melalui proyek SATREPS, BRIN dan Jepang terus memperkuat kolaborasi riset untuk mendorong pemanfaatan biomassa secara lebih optimal. Pengembangan tersebut diharapkan dapat mendukung pembangunan rendah karbon, ekonomi hijau, sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.







