PertanianTeknologi

Pupuk Lebih Sedikit, Wereng Ikut Dikendalikan? Ini Teknologi Baru BRIN untuk Sawah Petani

7
×

Pupuk Lebih Sedikit, Wereng Ikut Dikendalikan? Ini Teknologi Baru BRIN untuk Sawah Petani

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, Warganet – Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan masih menjadi persoalan yang dihadapi sebagian petani. Di tengah kondisi tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi Slow Release Fertilizer (SRF) yang memungkinkan unsur hara dilepaskan secara perlahan dan diserap tanaman dengan lebih efisien.

 

Teknologi ini tidak hanya ditujukan untuk menghemat penggunaan pupuk, tetapi juga dipadukan dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) untuk menghadapi Wereng Batang Coklat (WBC) yang menyerang tanaman padi.

 

Melansir laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), teknologi tersebut dikembangkan melalui demplot di Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Program kini memasuki tahap kedua melalui Demplot II seluas 3.200 meter persegi, setelah sebelumnya Demplot I diterapkan pada lahan seluas 3.300 meter persegi.

 

Pada tahap ini, BRIN tidak hanya menguji teknologi pemupukan, tetapi mengintegrasikannya dengan pengendalian hama agar budidaya padi dapat berlangsung lebih efisien dan berkelanjutan.

 

Formula Pupuk Dibuat Lebih Hemat

Peneliti Pendamping dari Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Agus Supriyo, menjelaskan bahwa petani dalam Demplot II dilatih membuat pupuk SRF Formula B.

 

Formula tersebut menggunakan Urea, SP36 dan Kalium dalam jumlah lebih sedikit. Bahan tersebut kemudian dienkapsulasi dengan bahan pembenah seperti arang tempurung kelapa, arang sekam, bahan organik dan zeolit.

 

“Formula B dirancang untuk meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara oleh tanaman sekaligus membantu memperbaiki sifat fisik, kimia dan rizosfer tanah,” jelas Agus, Senin (10/8/2026).

 

Menurut Agus, karakter slow release membuat unsur hara dilepaskan secara lebih lambat sehingga dapat diserap tanaman secara lebih efisien.

 

Dengan mekanisme tersebut, produktivitas padi diharapkan tetap terjaga tanpa harus meningkatkan dosis pupuk kimia.

 

Kebiasaan Petani Ikut Jadi Perhatian

Pengembangan SRF ternyata tidak hanya berkaitan dengan teknologi pupuk. BRIN juga menemukan persoalan kebiasaan dalam penggunaan pupuk di tingkat petani.

 

Dalam diskusi dengan petani, masih ditemukan anggapan bahwa semakin banyak pupuk diberikan, maka semakin baik pertumbuhan tanaman.

 

Ketua Gapoktan Desa Sidowayah, Jaenuri, mengakui kebiasaan tersebut masih terjadi.

 

“Kalau tidak dipupuk yang banyak, maka tanaman padi tidak mau berbunga,” ujarnya.

 

Sebagian petani juga masih menggunakan warna hijau daun sebagai indikator utama kesuburan tanaman. Ketika warna daun dianggap kurang hijau, penambahan pupuk dilakukan tanpa sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan tanaman.

 

Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Gutomo Bayu Aji, menegaskan bahwa pengembangan SRF tidak berhenti pada peningkatan hasil panen.

 

Teknologi tersebut juga diarahkan untuk mengubah perilaku petani menuju praktik budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan.

 

Sekaligus Hadapi Wereng Batang Coklat

Tantangan lain yang dihadapi petani Klaten adalah meningkatnya Wereng Batang Coklat (WBC) pada musim tanam gadu tahun ini.

 

Karena itu, BRIN mengintegrasikan teknologi SRF dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu.

 

Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlina B. Puspita, mengatakan pengendalian WBC perlu dilakukan sejak dini dan tidak bergantung pada satu metode.

 

Strateginya mencakup penggunaan varietas tahan wereng seperti Inpari 32 WBC dan Bioni 63, pemantauan hama sejak awal serta penerapan tanam serentak.

 

Pendekatan tersebut membuat pengendalian hama dilakukan secara lebih menyeluruh, bukan hanya mengandalkan satu cara ketika serangan sudah terjadi.

 

Demplot Jadi Tempat Belajar Petani

Program BRIN ini juga menjadikan lahan demplot sebagai ruang belajar bersama antara peneliti dan petani.

 

Petani menyediakan lahan secara swadaya, sementara bahan pembuatan SRF dan benih padi disiapkan oleh tim peneliti BRIN.

 

Dengan pola tersebut, teknologi yang dikembangkan dapat langsung diuji dalam kondisi lahan petani. Pada saat yang sama, petani mendapatkan pengalaman dalam menerapkan teknologi pemupukan dan pengendalian hama.

 

Inovasi Didorong Jadi Model Usaha

BRIN juga mulai mendorong agar inovasi SRF tidak berhenti sebagai percobaan di lahan demplot.

 

Gutomo mengatakan pupuk SRF direncanakan dikembangkan melalui koperasi bersama Gapoktan. Dengan demikian, teknologi tersebut memiliki peluang untuk diterapkan lebih luas sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi petani.

 

“Pupuk SRF bukan hanya mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pembenah tanah, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam menurunkan emisi karbon dari sektor nitrogen pertanian,” ujar Gutomo.

 

Melalui kolaborasi peneliti BRIN, koperasi dan Gapoktan, pengembangan SRF diharapkan dapat menjadi salah satu model penerapan hasil riset yang langsung menyentuh kebutuhan petani.

 

Mulai dari efisiensi penggunaan pupuk, pengendalian wereng, peningkatan produktivitas hingga pengembangan usaha berbasis ekonomi kerakyatan, teknologi tersebut diarahkan agar tidak berhenti sebagai hasil penelitian di laboratorium.

 

Pupuk lebih sedikit, penyerapan lebih efisien, dan pengendalian wereng dilakukan sejak dini, itulah pendekatan yang sedang diuji BRIN di sawah petani Klaten.