Yogyakarta, Warganet – Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan sistem pertanian berbasis agroekologi dan ekonomi sirkular di kawasan karst Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Program tersebut dijalankan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM bersama Yanmar Environmental Sustainability Support Association (YESSA), Jepang, di Kalurahan Umbulrejo, Kapanewon Ponjong.
Melansir laman resmi UGM, Sabtu (23/8/2026), kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) untuk program selama lima tahun di Operation Room FTP UGM, Jumat (21/8).
Guru Besar FTP UGM, Prof. Lilik Soetiarso, mengatakan Umbulrejo dipilih karena memiliki karakter wilayah yang unik. Selain didominasi persawahan dengan sistem irigasi, wilayah tersebut juga memiliki perbukitan kapur yang menjadi bagian dari kawasan karst.
Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mengembangkan pertanian yang lebih beragam dan berkelanjutan. Karena itu, tim UGM akan mendorong diversifikasi komoditas serta pengelolaan sumber daya secara terpadu.
“Melalui penelitian teknologi pertanian tepat guna dan pengabdian kepada masyarakat, program tersebut sekaligus ditujukan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia serta mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan,” kata Lilik.
Dekan FTP UGM, Prof. Eni Harmayani, mengatakan kolaborasi dengan YESSA diarahkan agar ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, kerja sama tersebut tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat dan lahirnya inovasi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Salah satu konsep yang dikembangkan adalah ekonomi sirkular. Melalui konsep ini, potensi pertanian, peternakan, dan lingkungan akan dikelola secara terpadu sehingga limbah dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.
Ketua Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM, Dr. Arifin Dwi Saputro, berharap program tersebut menghasilkan teknologi tepat guna dan model pengelolaan sumber daya yang benar-benar dapat diterapkan masyarakat.
“Melalui konsep ekonomi sirkular dan sistem agroekologi, kami berharap potensi pertanian, peternakan, dan lingkungan dapat dikelola secara terpadu sehingga limbah dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi,” ujarnya.
Kolaborasi UGM dan YESSA ini bukan kerja sama pertama. Kedua pihak telah membangun kemitraan selama sembilan tahun melalui berbagai program di sejumlah desa, termasuk di Magelang dan Bantul.
Executive Secretary YESSA, Kamikubo Keita, mengatakan keberlanjutan kerja sama tersebut menjadi dasar bagi kedua pihak untuk memasuki tahap kolaborasi berikutnya. YESSA juga memberikan hibah untuk mendukung pelaksanaan program tahun pertama.
Pemerintah Kalurahan Umbulrejo menyatakan siap mendukung program tersebut. Lurah Umbulrejo, Wakimin, mengatakan masyarakat akan ditempatkan sebagai subjek sekaligus mitra utama dalam pelaksanaan program.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil DIY, KPH Yudonegoro, berharap program tersebut turut mendorong lahirnya petani milenial.
Menurutnya, petani muda tidak hanya membutuhkan tenaga, tetapi juga pendampingan dan mentoring agar mampu mengembangkan usaha pertanian secara berkelanjutan.
Pemerintah DIY melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY juga menyatakan siap mendukung program-program yang diusulkan tim pengabdian UGM di Umbulrejo.
Program UGM dan YESSA diharapkan tidak hanya memperkuat pertanian di Umbulrejo, tetapi juga menghasilkan model pengelolaan sumber daya dan pemberdayaan masyarakat yang dapat diterapkan di wilayah lain di DIY.







