Banjar, Warganet – Ancaman El Nino dan menurunnya curah hujan tidak lagi menjadi satu-satunya hambatan bagi petani di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Kehadiran Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membuat petani memiliki sumber air alternatif untuk menjaga lahan pertanian tetap terairi.
Salah satu JIAT dibangun di Desa Bawahan Selan, Kecamatan Mataraman. Infrastruktur tersebut memiliki jaringan sepanjang 760 meter dan mampu mengairi sekitar 13,30 hektare lahan pertanian.
Melansir laman resmi Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pu.go.id, Rabu (12/8/2026), pembangunan JIAT di Desa Bawahan Selan dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III Banjarmasin. Infrastruktur tersebut memanfaatkan sumur bor dengan kedalaman mencapai 126 meter dan menghasilkan debit air sekitar 3 liter per detik.
Bagi petani setempat, keberadaan infrastruktur tersebut memberikan harapan baru untuk meningkatkan produktivitas. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat, Waluyo, mengatakan sebelumnya petani hanya mampu menanam padi satu kali dalam setahun.
“Terima kasih kepada BWS Kalimantan III Banjarmasin yang telah membantu pembangunan sumur bor yang ada di desa kami. Mudah-mudahan dengan adanya bantuan dari Kementerian PU ini bisa meningkatkan taraf hidup petani yang ada di Desa Bawahan Selan, yang tadinya menanam padi setahun sekali, bisa menjadi dua kali, syukur-syukur bisa menjadi tiga kali,” ujar Waluyo.
Selain di Desa Bawahan Selan, pembangunan JIAT juga dilakukan di Desa Bawahan Seberang, Kecamatan Mataraman. Jaringan sepanjang 1 kilometer tersebut melayani lahan pertanian seluas 10,71 hektare.
Sumur pada jaringan tersebut memiliki kedalaman hingga 100 meter dengan debit air sekitar 3 liter per detik.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pembangunan JIAT menjadi salah satu langkah strategis untuk menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian, terutama ketika musim kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino.
“Melalui JIAT ini, kita ingin memastikan ketersediaan air sehingga produktivitas pertanian meningkat dan ketahanan pangan semakin kuat,” kata Dody.
Menurut Kementerian PU, JIAT merupakan sistem irigasi yang memanfaatkan air tanah melalui sumur bor dan pompa untuk mengairi lahan pertanian, khususnya wilayah yang belum terjangkau jaringan irigasi permukaan.
Pengembangan JIAT juga tidak hanya dilakukan dengan membangun sumur dan pompa. Kementerian PU menekankan pentingnya jaringan saluran tersier agar air dapat dialirkan secara efektif hingga ke lahan pertanian.
Dalam pengoperasiannya, sistem JIAT menggunakan listrik sebagai sumber energi utama. Genset disiapkan sebagai sumber daya cadangan apabila pasokan listrik utama mengalami gangguan.
Selain mendukung irigasi, infrastruktur tersebut juga dapat menyediakan air baku untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Dengan adanya sumber air yang lebih andal, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada curah hujan. Kondisi ini membuka peluang bagi petani untuk mengatur pola tanam dengan lebih teratur dan meningkatkan frekuensi panen.
Kementerian PU menyebut pembangunan JIAT di Banjar merupakan bagian dari upaya mendukung swasembada pangan nasional sekaligus menghadirkan infrastruktur yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.






