Teknologi

Minyak Jelantah Jadi Biodiesel? BRIN Uji Teknologi Sinar Gamma

8
×

Minyak Jelantah Jadi Biodiesel? BRIN Uji Teknologi Sinar Gamma

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, Warganet – Minyak jelantah yang selama ini menjadi limbah rumah tangga tengah diteliti untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menguji pemanfaatan iradiasi sinar gamma Cobalt-60 (Co-60) untuk meningkatkan produksi biodiesel dari minyak jelantah.

 

Melansir laman resmi BRIN, penelitian tersebut dikembangkan oleh Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) BRIN sebagai bagian dari upaya mencari alternatif energi terbarukan sekaligus mengurangi limbah minyak goreng.

 

Dosen Poltek Nuklir, Dhita Ariyanti, mengatakan pemanfaatan minyak jelantah memiliki peluang untuk memberikan manfaat ganda, yakni mengurangi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan sekaligus menghasilkan bahan bakar alternatif.

 

“Biodiesel memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan bahan bakar fosil, antara lain menghasilkan emisi yang lebih rendah dan mudah terurai secara alami,” ujar Dhita kepada Tim Humas BRIN, Selasa (18/8).

 

Dalam penelitian ini, minyak jelantah digunakan sebagai bahan baku dan diproses dengan bantuan iradiasi gamma dari radioisotop Cobalt-60.

 

Iradiasi tersebut menghasilkan radikal bebas yang dapat meningkatkan reaktivitas molekul. Peneliti menguji apakah proses tersebut dapat membantu pembentukan biodiesel berlangsung lebih efektif tanpa penambahan bahan kimia baru.

 

Hasil awal penelitian menunjukkan volume biodiesel meningkat seiring penambahan dosis iradiasi. Dari bahan baku awal sebanyak 150 mililiter, produksi biodiesel tertinggi mencapai 104,7 mililiter pada dosis iradiasi 35 kGy.

 

Analisis menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR) juga menunjukkan terbentuknya gugus fungsional ester yang menjadi salah satu indikator biodiesel. Perubahan spektrum terlihat lebih jelas pada dosis iradiasi 20 kGy dan 35 kGy.

 

Meski demikian, BRIN menegaskan penelitian tersebut masih bersifat pendahuluan. Hasil awal belum cukup untuk menyimpulkan secara final bahwa iradiasi gamma mempercepat proses transesterifikasi.

 

Peneliti menyebut diperlukan data kuantitatif mengenai tingkat konversi, antara lain melalui pengujian menggunakan instrumen seperti GC atau 1H-NMR.

 

Dhita mengatakan penelitian berikutnya perlu menguji dosis iradiasi yang lebih tinggi dari 35 kGy. Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui batas ketika manfaat iradiasi tidak lagi optimal sekaligus memastikan kualitas biodiesel tetap terjaga.

 

Riset ini membuka peluang pemanfaatan teknologi nuklir dalam pengembangan energi terbarukan. Namun, diperlukan penelitian lanjutan sebelum teknologi tersebut dapat dinilai lebih jauh untuk penerapan yang lebih luas.

 

Penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Formation of Alkyl-Ester as Effect of Irradiation 60Co Gamma from Oil Waste: Preliminary Study as Candidate of Biodiesel, U.P.B. Scientific Bulletin, Series B, Volume 87, Issue 4, Tahun 2025.

 

Riset ini merupakan kolaborasi Poltek Nuklir BRIN dengan Uzatom Atomic Energy Agency di Uzbekistan dan University of Maiduguri di Nigeria, serta didukung peneliti dari Direktorat Pengelolaan Laboratorium, Fasilitas Riset, dan Kawasan Sains Teknologi BRIN.