Teknologi

Limbah Bauksit dan Cangkang Sawit Bisa Jadi Masa Depan Industri Mineral Indonesia

5
×

Limbah Bauksit dan Cangkang Sawit Bisa Jadi Masa Depan Industri Mineral Indonesia

Sebarkan artikel ini

Lampung, Warganet – Limbah industri selama ini kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan. Namun, melalui riset dan teknologi yang tepat, material yang dianggap tidak berguna ternyata dapat diubah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.

Melansir laman resmi BRIN, Sabtu, pengembangan teknologi tersebut dibahas dalam webinar Diskusi Seputar Mineral Strategis Indonesia seri ke-10 yang digelar pada Kamis (13/8).

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Mineral (PRTM) mendorong pemanfaatan residu bauksit atau red mud serta cangkang kelapa sawit untuk mendukung hilirisasi mineral yang lebih ramah lingkungan.

Kepala PRTM BRIN Fajar Nurjaman mengatakan, arah riset pengolahan mineral di Indonesia kini mulai bergeser. Jika sebelumnya hilirisasi banyak berfokus pada pengolahan mineral seperti nikel dan bauksit menjadi produk, perhatian kini semakin diarahkan pada pemanfaatan sisa atau limbah hasil tambang.

“Peneliti dituntut untuk memanfaatkan sisa atau limbah hasil tambang agar bisa diolah menjadi produk baru yang berdaya jual tinggi,” ujar Fajar.

Menurut dia, pengembangan teknologi pengolahan mineral juga perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan. Teknologi pengolahan limbah dan metalurgi hijau dinilai dapat memperkuat hilirisasi mineral strategis sekaligus mendukung keberlanjutan industri nasional.

Salah satu riset yang dipaparkan berkaitan dengan pemanfaatan red mud, yakni residu yang dihasilkan dari proses pengolahan bauksit.

Purna Bakti Periset PRTM BRIN Sariman menjelaskan, residu bauksit memiliki pH tinggi dengan volume mencapai sekitar 6 hingga 10 juta ton per tahun.

Jika tidak dikelola dengan baik, material tersebut berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan. Namun, di balik statusnya sebagai limbah, red mud ternyata menyimpan berbagai unsur yang memiliki nilai ekonomi.

Residu bauksit diketahui mengandung besi sekitar 20–60 persen serta sejumlah Logam Tanah Jarang (LTJ), di antaranya Neodymium, Scandium, dan Lanthanum.

Melalui kombinasi metode hidrometalurgi dan pirometalurgi, BRIN mengembangkan teknologi untuk mengekstraksi mineral bernilai tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan ekstraksi Neodymium dapat mencapai perolehan hingga 99,6 persen, sedangkan Scandium mencapai 80,3 persen secara selektif pada kondisi tertentu.

Teknologi tersebut sekaligus membuka peluang penerapan konsep ekonomi sirkular. Limbah industri yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat diproses kembali menjadi sumber daya sekunder dengan nilai tambah.

Tidak hanya residu bauksit, material yang selama ini dianggap sebagai limbah dari industri kelapa sawit juga mulai dilirik untuk mendukung industri mineral.

Dosen Program Studi Teknik Kimia Institut Teknologi Kalimantan Asful Hariyadi memaparkan pengembangan turunan biokarbon dari cangkang kelapa sawit sebagai reduktor ramah lingkungan untuk pengolahan nikel dan besi.

Pengembangan ini berangkat dari persoalan ketergantungan industri terhadap kokas berbahan baku batu bara. Penggunaan kokas konvensional dalam proses peleburan turut menghasilkan emisi karbon yang signifikan.

Cangkang kelapa sawit yang melimpah kemudian dikembangkan menjadi biokokas terbarukan.

Briket biokokas berbasis cangkang sawit tersebut memiliki kadar karbon terikat di atas 80 persen dan kekuatan tekan mekanis yang memenuhi kriteria penggunaannya dalam blast furnace.

Hasil pengujian pada proses peleburan feronikel menunjukkan penggunaan biokokas cangkang kelapa sawit mampu menghasilkan tingkat perolehan hingga 92 persen untuk nikel dan 88 persen untuk besi.

Studi Life Cycle Assessment juga menunjukkan integrasi biokokas tersebut berpotensi menekan dampak pemanasan global hingga di bawah 0,5 kilogram CO₂-ekuivalen per kilogram produk.

Pengembangan dua teknologi tersebut menunjukkan bahwa masa depan industri mineral tidak hanya berbicara mengenai seberapa banyak sumber daya alam yang dapat ditambang, tetapi juga bagaimana sisa proses industri dapat kembali dimanfaatkan.

Dengan mengubah residu bauksit menjadi sumber mineral bernilai dan cangkang kelapa sawit menjadi reduktor alternatif, riset BRIN membuka peluang bagi industri mineral Indonesia untuk bergerak menuju proses produksi yang lebih efisien sekaligus lebih ramah lingkungan.

Pada akhirnya, limbah yang sebelumnya dipandang sebagai beban dapat berubah menjadi bagian penting dari rantai pasok industri. Tantangannya kini adalah bagaimana teknologi tersebut dapat terus dikembangkan hingga mampu diterapkan secara luas dan memberikan manfaat ekonomi bagi industri sekaligus menjaga lingkungan.