LifestylePertanian

Jambu Biji Muda Diseduh Jadi Teh, Benarkah Lebih Kaya Senyawa Bioaktif?

3
×

Jambu Biji Muda Diseduh Jadi Teh, Benarkah Lebih Kaya Senyawa Bioaktif?

Sebarkan artikel ini

Bogor, Warganet – Jambu biji umumnya dikenal sebagai buah yang dikonsumsi ketika sudah matang. Namun, di Tiongkok, buah jambu biji yang masih muda justru diolah menjadi teh herbal.

Fenomena tersebut menarik perhatian karena jambu biji muda memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan buah yang telah matang. Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Sandra Arifin Aziz, menjelaskan bahwa fase muda pada jambu biji memiliki kandungan sejumlah senyawa bioaktif yang menarik untuk dikaji.

Dikutip dari laman resmi IPB University, Jumat (7/8/2026), Prof. Sandra mengatakan teh yang dibuat dari buah jambu biji muda memiliki karakteristik berbeda dengan teh berbahan daun jambu maupun buah jambu matang.

Perbedaan tersebut terlihat dari kandungan metabolit sekunder, cita rasa, hingga struktur fisiknya.

Salah satu cirinya adalah rasa yang lebih sepat. Hal tersebut berkaitan dengan proses pematangan buah yang belum berlangsung secara optimal.

“Pada buah jambu biji muda, proses pembentukan gula belum optimal, tetapi akumulasi senyawa pertahanan tanaman seperti fenolik dan tanin berada pada puncaknya,” jelas Prof. Sandra.

Jambu biji muda diketahui mengandung sejumlah senyawa bioaktif, antara lain tanin, asam galat, asam elagat, flavonoid, serta pektin.

Ketika buah tersebut diolah menjadi teh, senyawa fenolik disebut dapat tetap stabil dalam bentuk matriks kering.

Berdasarkan kajian fitokimia, seduhan buah jambu biji muda berpotensi memiliki aktivitas yang berkaitan dengan pengendalian kadar gula darah melalui penghambatan enzim pemecah karbohidrat.

Kandungan taninnya juga disebut berpotensi mendukung kesehatan saluran pencernaan, sementara senyawa fenolik memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.

Namun, apakah hal tersebut berarti teh jambu biji muda sudah terbukti lebih sehat dibandingkan produk teh lainnya?

Prof. Sandra memberikan catatan penting. Bukti ilmiah mengenai manfaat seduhan teh dari buah jambu biji muda pada manusia masih terbatas.

Penelitian mengenai manfaat jambu biji selama ini lebih banyak dilakukan terhadap ekstrak daun. Karena itu, manfaat kesehatan teh berbahan jambu biji muda masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, terutama melalui uji klinis pada manusia.

 

Peluang dari Buah Muda

Selain aspek kesehatan, pemanfaatan jambu biji muda juga membuka peluang baru dalam pengembangan pangan fungsional.

Di Indonesia, buah jambu biji muda sebenarnya tersedia dari proses penjarangan buah atau fruit thinning. Petani biasanya melakukan penjarangan untuk meningkatkan kualitas buah yang akan dipanen.

Buah hasil penjarangan tersebut belum selalu dimanfaatkan secara optimal.

Kondisi itu dinilai dapat menjadi peluang untuk mengembangkan produk bernilai tambah, termasuk teh herbal berbahan jambu biji muda.

“Prospek riset komoditas ini sangat cerah karena sejalan dengan tren global upcycling food components, yaitu memanfaatkan bagian tanaman yang biasanya terbuang menjadi produk bernilai tambah tinggi,” kata Prof. Sandra.

Meski demikian, pengembangan teh jambu biji muda masih menghadapi sejumlah tantangan.

Di antaranya adalah standardisasi bahan baku, pengendalian pencokelatan selama proses pengolahan, serta formulasi untuk mengurangi rasa sepat agar lebih mudah diterima konsumen.

Dengan dukungan riset teknologi pascapanen, pengujian khasiat, formulasi, hingga hilirisasi industri, jambu biji muda berpeluang dikembangkan menjadi salah satu alternatif produk pangan fungsional.

Fenomena teh jambu biji muda di Tiongkok pun menunjukkan bahwa bagian buah yang selama ini kurang mendapat perhatian masih memiliki potensi untuk dikembangkan melalui inovasi pangan dan penelitian ilmiah.