Jakarta, Warganet – Dokter sekaligus figur publik dr Tirta mengungkap sisi personal kehidupannya yang jarang diketahui publik. Selain pasangan dan anak, ternyata ada tujuh ekor kucing yang menjadi teman bercerita ketika dirinya menghadapi berbagai persoalan.
Cerita tersebut disampaikan dr Tirta saat berbincang di kanal YouTube pod.ruangtunggu, pada Kamis (6/8/2026).
dr Tirta bercerita, dirinya mulai memelihara kucing di Jakarta pada 2022. Awalnya, keberadaan kucing-kucing tersebut menjadi hiburan di rumah.
Namun seiring waktu, ketujuh kucing itu justru memiliki peran lebih dari sekadar hewan peliharaan.
Menurut dr Tirta, ketujuh kucingnya memiliki wajah yang hampir sama, bahkan semuanya terlihat “grumpy”.
“Jadi aku punya tujuh kucing, tujuh-tujuhnya itu mukanya kayak aku semua. Grumpy semua,” kata dr Tirta.
Kehadiran kucing-kucing tersebut membuat suasana rumahnya menjadi lebih menyenangkan. Bahkan, ketika sedang menghadapi masalah, dr Tirta terbiasa mengajak kucing-kucingnya berkumpul.
Ia kemudian memberikan makanan ringan kepada kucing-kucing tersebut sembari menceritakan apa yang sedang dipikirkannya.
Kebiasaan itu bahkan pernah direkam oleh istrinya.
“Kalau punya masalah aku pernah direkam sama istriku, jadi kucing tak kumpulin, snack, terus aku cerita di depan kucing,” ujarnya.
Bagi dr Tirta, kucing akhirnya menjadi salah satu tempat untuk mencurahkan cerita selain pasangan dan anak.
“Jadi aku tuh teman ceritanya selain pasangan, anak, itu kucing,” katanya.
Ia juga menyebut dua kucingnya, Stan dan Bibi, telah menemaninya melewati berbagai perubahan dalam hidup.
Menurutnya, keberadaan kucing, anak, dan pasangan membuat kehidupannya terasa lebih damai.
Belajar Berdamai dengan Kehidupan
Ia mengatakan, pada fase kehidupannya saat ini, dirinya tidak lagi terlalu berusaha mengetahui bagaimana akhir dari setiap perjalanan yang dijalani.
“Jadi aku bukan living a life, aku living every day one hundred percent. Karena mungkin bisa saja this day is my last day,” tuturnya.
Bagi dr Tirta, manusia pada akhirnya tidak pernah benar-benar mengetahui ke mana seluruh rencana hidup akan berujung.
Karena itu, ia memilih menjalani setiap hari secara penuh dan menerima berbagai hal yang terjadi dalam hidup.
Dari interaksinya dengan kucing, ia juga mendapatkan sudut pandang mengenai penerimaan.
Menurutnya, kucing tidak bisa menggunakan bahasa manusia untuk berkomunikasi. Namun, bagi kucing, pemiliknya bisa menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan mereka.
“Bagi mereka aku adalah seluruh hidupnya,” ujar dr Tirta.
Dari sana, ia menyadari bahwa dirinya sendiri juga tidak selalu mengetahui untuk siapa seluruh pekerjaan dan perjuangan yang dilakukan akan berujung.
Pemikiran tersebut akhirnya membawanya pada sebuah kesimpulan bahwa tidak semua hal dalam kehidupan harus memiliki jawaban.
“Aku ngerasa kayak acceptance, bahwa tidak semua hal di dunia ini butuh jawaban,” katanya.
Bagi dr Tirta, tujuh kucing di rumahnya akhirnya bukan hanya menjadi hiburan. Mereka juga menjadi teman dalam menjalani hari, tempat mencurahkan cerita, sekaligus pengingat untuk menerima kehidupan dan menikmati setiap momen yang ada.






