Ekonomi Dan BisnisInternasionalOtomotif

Bridgestone Keluhkan Pasokan Karet, Kemendag Siapkan Langkah Mitigasi

13
×

Bridgestone Keluhkan Pasokan Karet, Kemendag Siapkan Langkah Mitigasi

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Warganet – Bridgestone Indonesia mengungkapkan keterbatasan pasokan bahan baku karet alam di dalam negeri sebagai salah satu tantangan yang dihadapi perusahaan. Penurunan produksi karet nasional membuat perusahaan masih harus mengandalkan sebagian bahan baku impor untuk memenuhi kebutuhan produksi. Menanggapi hal tersebut, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menegaskan akan menyiapkan langkah mitigasi melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait.

 

Hal itu mengemuka dalam audiensi Menteri Perdagangan Budi Santoso dengan manajemen Bridgestone Indonesia di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (21/7/2026). Pertemuan tersebut membahas strategi peningkatan ekspor produk ban nasional, penguatan investasi, serta berbagai kendala yang dihadapi pelaku usaha produk ban dalam menjaga daya saing di pasar global.

 

Menteri Perdagangan yang akrab disapa Mendag Busan menegaskan, Kemendag berkomitmen mendukung pelaku usaha, termasuk industri ban, untuk terus memperkuat ekspor. Dalam pertemuan itu, Kemendag juga menggali rencana peningkatan ekspor, dukungan perusahaan induk terhadap penambahan jenis produk dan pasar tujuan ekspor, serta berbagai hambatan yang dihadapi pelaku usaha ban dalam perdagangan internasional.

 

> “Kemendag berkomitmen untuk terus memfasilitasi perluasan pasar ekspor produk-produk Indonesia, termasuk ban Bridgestone, melalui perundingan perdagangan yang telah berjalan maupun yang sedang dirundingkan. Kemendag juga menyambut baik partisipasi berbagai produk ban berkualitas dari Indonesia dalam promosi dagang internasional dan penjajakan bisnis (business matching) dengan calon pembeli potensial melalui perwakilan perdagangan di luar negeri,” ujar Mendag Busan.

 

 

 

Ia menjelaskan, Indonesia saat ini telah memiliki 20 perjanjian dagang yang telah diimplementasikan, 15 perjanjian dalam proses ratifikasi, serta 11 perjanjian yang masih dalam tahap negosiasi, termasuk penyelesaian Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

 

Mendag Busan juga menegaskan pentingnya komunikasi antara pemerintah dan dunia usaha. Menurutnya, jika terdapat kendala dalam kegiatan ekspor maupun investasi, pelaku usaha diharapkan menyampaikannya agar dapat dicarikan solusi bersama.

 

Dalam audiensi tersebut, Presiden Direktur Bridgestone Indonesia Mukiat Sutikno menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah terhadap pengembangan ekspor nasional serta keberhasilan Kemendag mengupayakan perjanjian perdagangan dengan berbagai negara mitra.

 

Mukiat menjelaskan, Bridgestone Indonesia saat ini mengekspor produknya ke sekitar 70 negara, dengan Australia, Jepang, dan Malaysia sebagai pasar ekspor utama. Namun, salah satu tantangan yang dihadapi adalah keterbatasan pasokan bahan baku karet alam di dalam negeri.

 

Menurutnya, penurunan produksi karet nasional mengakibatkan perusahaan masih harus mengandalkan sebagian bahan baku impor untuk memenuhi kebutuhan produksi. Selain itu, pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib terhadap sejumlah komponen yang belum dapat diproduksi di dalam negeri juga berpotensi memengaruhi kelancaran produksi.

 

Di sisi lain, Bridgestone Indonesia juga menghadapi tantangan ekspor ke Uni Eropa akibat penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR). Karena itu, perusahaan berharap penyelesaian IEU-CEPA dapat semakin meningkatkan daya saing produk Indonesia, termasuk melalui penurunan tarif bea masuk.

 

Menindaklanjuti berbagai masukan tersebut, Mendag Busan menegaskan Kemendag akan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk menanggulangi berbagai tantangan yang dihadapi Bridgestone Indonesia, termasuk berupaya meningkatkan akses pasar.

 

Bridgestone Indonesia telah beroperasi sejak 1973 dengan fasilitas produksi di Bekasi dan Karawang, Jawa Barat. Perusahaan juga tengah mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas Authorized Economic Operator (AEO) untuk meningkatkan efisiensi logistik serta memperkuat daya saing ekspor ke berbagai negara tujuan.