Ekonomi Dan BisnisPendidikanSeni

ISI Surakarta Ajarkan Perajin Gerabah Ikuti Tren Japandi hingga Wabi-Sabi

5
×

ISI Surakarta Ajarkan Perajin Gerabah Ikuti Tren Japandi hingga Wabi-Sabi

Sebarkan artikel ini

Klaten, Warganet – Gerabah tradisional Melikan terus didorong agar mampu bersaing di pasar produk interior modern. Melansir dari situs resmi ISI Surakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta memberikan pelatihan kepada para perajin gerabah dan pelaku UMKM di Desa Wisata Melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, untuk mengembangkan produk yang mengikuti tren desain global seperti Japandi, Wabi-Sabi, Organic Modern, hingga Scandinavian tanpa meninggalkan identitas lokal.

Pelatihan bertajuk “Pemberdayaan Ekonomi Desa Wisata Melikan melalui Co-Design Gerabah sebagai Elemen Interior Kontemporer Berbasis Identitas Lokal” tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang didanai melalui skema DIPA ISI Surakarta Tahun Anggaran 2026.

Tim pelaksana dipimpin Dr. Ir. Tri Prasetyo Utomo, M.Sn., bersama Neni Nurul Rosalina, M.Ars., dan Zulfa Miflatul Khoirunnisa, S.Ds., M.A., serta melibatkan mahasiswa Program Studi Arsitektur.

Dalam pelatihan, peserta diperkenalkan dengan konsep co-design sebagai strategi mengembangkan gerabah tradisional menjadi produk interior kontemporer. Perajin diajak memahami perubahan tren pasar yang kini tidak hanya mencari produk fungsional, tetapi juga produk dekorasi dan gaya hidup (lifestyle).

Berbagai inspirasi desain turut diperkenalkan, mulai dari vas kontemporer, lampu meja dan lampu gantung berbahan gerabah, diffuser aromaterapi, incense holder, jewelry tray, hingga coaster. Meski demikian, ISI Surakarta menegaskan inovasi tidak berarti meninggalkan teknik tradisional. Teknik putar miring khas Gerabah Melikan tetap dipertahankan sebagai identitas utama, sementara pembaruan dilakukan melalui eksplorasi bentuk, fungsi, proporsi, dan finishing.

Selain pengembangan desain produk, para perajin juga dibekali materi mengenai branding dan pemasaran digital. Mereka mendapatkan pelatihan tentang penyusunan identitas merek, pembuatan logo, desain kemasan, pemanfaatan media sosial dan marketplace, hingga penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu pembuatan konten promosi.

Tim PKM juga memperkenalkan konsep visual merchandising dan penataan showroom agar produk memiliki nilai jual lebih tinggi sekaligus memperkuat daya tarik Desa Wisata Melikan sebagai destinasi wisata kriya.

Ketua tim PKM, Dr. Ir. Tri Prasetyo Utomo, M.Sn., berharap program tersebut dapat mengatasi stagnasi inovasi sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk ke sektor perhotelan dan kafe.

“Kita tidak harus membuang tradisi untuk menjadi modern. Dengan pendekatan co-design, perajin dan desainer berkolaborasi menciptakan produk yang relevan dengan zaman namun tetap memiliki cerita budaya yang kuat,” ujarnya.

Program ini diharapkan dapat memperkuat identitas Desa Wisata Melikan sebagai destinasi wisata kriya unggulan, meningkatkan pendapatan para perajin, serta mendukung keberlanjutan ekonomi kreatif di Kabupaten Klaten.