Morotai, Warganet – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan cara kreatif untuk menghidupkan kembali minat generasi muda terhadap tari tradisional di Pulau Morotai, Maluku Utara. Bersama Sanggar Seni Moro’daloha, mereka menggelar pelatihan tari, mendokumentasikan gerakan secara digital, hingga mempromosikan kegiatan sanggar melalui media sosial.
Program tersebut lahir dari keresahan atas menurunnya minat anak-anak dan remaja terhadap kesenian tradisional. Melalui kolaborasi dengan sanggar seni setempat, mahasiswa KKN UGM berupaya menjembatani para pelatih dan penari senior dengan generasi muda agar warisan budaya leluhur tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Melansir laman resmi Universitas Gadjah Mada yang dipublikasikan pada Rabu (5/8/2026), program ini berfokus pada pelestarian tiga tarian tradisional khas Maluku Utara, yakni Tari Tide-Tide, Tari Soya-Soya, dan Tari Lalayon. Ketiganya tidak hanya diajarkan melalui latihan rutin, tetapi juga didokumentasikan sebagai arsip digital dan diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat.
“Kami melihat sanggar Moro’daloha memiliki para pelatih dan penari senior yang sangat kompeten, tetapi regenerasi penari muda menjadi tantangan tersendiri. Melalui program ini, mahasiswa KKN membantu dari sisi dokumentasi, publikasi digital, dan penyelenggaraan kegiatan agar latihan tari lebih menarik bagi anak-anak dan remaja,” ujar Bagus Ulinnuha, salah satu anggota Tim KKN-PPM UGM Morotai dalam keterangan yang diterima.
Ulin, sapaan akrabnya, mengatakan program tersebut lahir dari keprihatinan masyarakat terhadap semakin berkurangnya minat generasi muda mempelajari kesenian tradisional. Kehadiran mahasiswa KKN diharapkan dapat menjadi penghubung antara sanggar seni lokal dan anak muda agar warisan budaya tidak tergerus zaman.
Ia menjelaskan, Tari Tide-Tide merupakan tarian pergaulan khas Halmahera yang biasa ditampilkan dalam pesta adat dan pernikahan dengan iringan tifa serta melambangkan kesuburan alam dan keharmonisan pemuda-pemudi. Sementara Tari Soya-Soya merupakan tarian perang yang menggambarkan semangat pantang menyerah rakyat Ternate dalam mengusir penjajah. Adapun Tari Lalayon merupakan tarian pergaulan yang sarat pesan romantis dan rasa syukur yang dibawakan secara berpasangan oleh penari pria dan wanita.
Ketua Sanggar Moro’daloha, Fahriyani Ence, S.Pd., mengatakan kolaborasi dengan mahasiswa KKN UGM memberikan semangat baru bagi sanggar yang telah berdiri selama delapan tahun.
“Anak-anak sekarang lebih tertarik kalau ada pendampingan yang kreatif. Mahasiswa membantu kami membuat konten latihan, merapikan jadwal, dan mendorong anak-anak muda desa untuk ikut bergabung,” katanya.
Program pelestarian budaya ini dilaksanakan melalui sejumlah tahapan, mulai dari pemetaan kondisi sanggar dan jumlah penari aktif, pelatihan rutin bersama pelatih sanggar, dokumentasi audiovisual gerak tari sebagai arsip digital, hingga pertunjukan yang telah digelar pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) XII Maluku Utara dan puncaknya dalam Festival Toma Cita Morotai.
Selain itu, mahasiswa KKN juga membantu memperkenalkan Sanggar Moro’daloha melalui media sosial sehingga jangkauan promosinya semakin luas hingga ke luar Pulau Morotai. Upaya ini diharapkan mampu menarik lebih banyak generasi muda untuk mengenal dan mempelajari kesenian tradisional daerahnya.
Tak hanya mengajarkan gerakan tari, program tersebut juga menyisipkan edukasi sejarah mengenai Kesultanan Ternate dan Tidore yang menjadi akar dari tarian-tarian tersebut. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mampu menarikan tarian tradisional, tetapi juga memahami nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Pemerintah kecamatan setempat menyambut baik inisiatif tersebut dan berharap kolaborasi antara sanggar seni dan perguruan tinggi dapat terus berlanjut meski masa penugasan KKN telah berakhir. Program ini diharapkan menjadi contoh kolaborasi antara akademisi, komunitas seni, dan pemerintah daerah dalam menjaga kekayaan budaya takbenda Maluku Utara.
Ulin berharap program pelestarian budaya yang dirintis mahasiswa KKN UGM dapat terus dilanjutkan oleh sanggar dan masyarakat setempat secara mandiri, termasuk melalui pembentukan kelompok penari muda binaan yang rutin berlatih dan tampil dalam berbagai kegiatan adat di Pulau Morotai.






