Bandung, Warganet – Di balik deretan bangunan bersejarah di kawasan Jalan Cibadak, masih berdiri salah satu saksi perjalanan industri pangan Kota Bandung, yakni Pabrik Biskuit Olympia. Berlokasi di Jalan Cibadak No. 234, pabrik ini menjadi rumah bagi salah satu merek biskuit legendaris yang memulai produksinya pada 1928 dan hingga kini tetap mempertahankan aktivitas produksinya.
Selama hampir satu abad, Olympia tidak hanya dikenal sebagai produsen biskuit, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah perkembangan industri di Kota Bandung. Di tengah perubahan zaman dan pesatnya perkembangan industri modern, pabrik ini terus mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu warisan industri yang masih hidup.
Generasi penerus Pabrik Biskuit Olympia, Liem Swie Hong, menjelaskan bahwa perjalanan Olympia tidak terlepas dari sejarah kawasan Pecinan Bandung pada masa kolonial Hindia Belanda, sebagaimana dikutip dari informasi yang dimuat di situs resmi Pemerintah Kota Bandung. Saat itu, masyarakat Tionghoa banyak berperan sebagai middleman atau perantara perdagangan antara pemerintah kolonial dan masyarakat. Melihat tingginya minat masyarakat Belanda terhadap biskuit, keluarga pendiri kemudian mendirikan pabrik untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Pada masa itu masyarakat Tionghoa banyak menjadi middleman. Orang-orang Belanda sangat menyukai biskuit, sehingga muncul gagasan untuk mendirikan pabrik biskuit guna memenuhi kebutuhan mereka. Nama Olympia sendiri diambil dari kata ‘Olimpiade’, sebagai harapan agar produk kami memiliki kualitas terbaik dan dapat dikenal luas,” ujar Liem Swie Hong.
Seiring berjalannya waktu, Olympia berkembang menjadi salah satu pabrik biskuit terbesar di Kota Bandung. Pada masa kejayaannya, pabrik ini menerapkan sistem produksi terintegrasi penuh (full integrated), mulai dari pengolahan bahan baku, pembuatan kaleng kemasan sendiri, hingga merancang dan memproduksi mesin produksi secara mandiri.
Kemampuan tersebut menjadikan Olympia sebagai salah satu industri yang mampu mengembangkan proses produksinya tanpa bergantung pada komponen dari luar negeri.
Namun, perjalanan panjang Olympia tidak selalu berjalan mulus. Berbagai peristiwa bersejarah seperti Bandung Lautan Api, dinamika sosial pada awal dekade 1960-an, hingga perubahan kondisi politik nasional turut menjadi tantangan yang harus dihadapi perusahaan.
Meski demikian, Olympia tetap bertahan dan pernah mencapai masa kejayaannya dengan mempekerjakan sekitar 560 karyawan, menjadikannya salah satu industri yang turut menggerakkan roda perekonomian Kota Bandung.
“Olympia pernah menjadi pabrik yang terintegrasi penuh. Kami membuat kaleng sendiri, mengolah bahan baku, bahkan memproduksi mesin untuk kebutuhan produksi. Pada masa jayanya, Olympia memiliki sekitar 560 karyawan. Saat ini tantangan terbesar adalah fasilitas produksi yang sudah berusia tua sehingga membutuhkan pembaruan agar dapat terus berkembang,” tuturnya.
Selain menyimpan sejarah industri, Olympia juga menjadi bagian dari perjalanan hidup para pekerjanya. Salah satunya adalah Nono, pegawai tertua di Pabrik Biskuit Olympia yang telah mengabdikan dirinya sejak 1980.
Selama lebih dari empat dekade, Nono menjadi saksi berbagai perubahan yang terjadi di Olympia, mulai dari masa produksi yang begitu sibuk hingga berbagai tantangan yang dihadapi perusahaan dalam mempertahankan eksistensinya.
“Saya mulai bekerja di Olympia sejak tahun 1980. Selama bekerja di sini saya sudah mengalami berbagai situasi dan kondisi yang dilalui pabrik ini dari tahun ke tahun. Banyak perubahan yang saya saksikan, tetapi saya bersyukur Olympia masih tetap bertahan hingga sekarang,” ungkap Nono.
Di tengah perkembangan industri yang semakin kompetitif, Olympia terus berupaya mempertahankan eksistensinya. Pembaruan fasilitas produksi menjadi salah satu harapan agar pabrik legendaris ini dapat terus berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas tanpa meninggalkan nilai sejarah yang telah melekat selama puluhan tahun.
Lebih dari sekadar tempat memproduksi biskuit, Pabrik Biskuit Olympia menjadi simbol ketangguhan sebuah industri lokal yang mampu bertahan melewati berbagai dinamika zaman. Keberadaannya tidak hanya menyimpan jejak sejarah industri Kota Bandung, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan industri sebagai bagian dari identitas kota.







