Kuliner

Di Balik Sawo Asin Jeme Bakhi, Tersimpan Pengetahuan Pangan Warisan Leluhur

2
×

Di Balik Sawo Asin Jeme Bakhi, Tersimpan Pengetahuan Pangan Warisan Leluhur

Sebarkan artikel ini

OKU, Warganet – Di tengah berkembangnya teknologi pengolahan dan penyimpanan makanan modern, masyarakat Jeme Bakhi di Desa Peninjauan, Kecamatan Peninjauan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), masih menyimpan jejak pengetahuan pangan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi pengawetan buah sawo atau yang dikenal sebagai sawo asin.

 

Pengetahuan lokal tersebut menjadi pembahasan dalam Diskusi Kebudayaan bertema “Pelindungan dan Revitalisasi Metode Pengawetan Tradisional Buah Sawo sebagai Pengetahuan Lokal Masyarakat Jeme Bakhi” yang digelar pada 1 Juni 2026.

 

Dalam diskusi tersebut, para narasumber menyoroti bahwa sawo asin bukan sekadar produk olahan tradisional, melainkan bentuk kecerdasan masyarakat masa lalu dalam mengelola hasil alam. Melalui teknik pengawetan sederhana yang memanfaatkan bahan dan proses alami, masyarakat mampu memperpanjang masa simpan buah sawo tanpa bantuan teknologi modern.

 

Narasumber Fadila menjelaskan bahwa tradisi pengawetan sawo merupakan bukti kemampuan masyarakat Jeme Bakhi beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Menurutnya, praktik tersebut lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam memanfaatkan hasil kebun sekaligus menjaga ketersediaan pangan.

 

Selain menjadi teknik pengolahan pangan, tradisi sawo asin juga menyimpan nilai sosial yang kuat. Ratna Juwita mengungkapkan bahwa proses pembuatannya dilakukan secara gotong royong dan melibatkan anggota keluarga maupun masyarakat sekitar. Aktivitas tersebut menjadi ruang interaksi yang mempererat hubungan sosial antarwarga.

 

Sementara itu, Melisa Paulina menilai tradisi sawo asin sebagai bagian dari pengetahuan ekologis masyarakat lokal. Pengetahuan tersebut tidak hanya mengajarkan cara mengawetkan makanan, tetapi juga mencerminkan penghormatan terhadap alam dan pemanfaatan sumber daya secara bijaksana.

 

Penyelenggara kegiatan, Reza Yuniska Sari, mengatakan dokumentasi mengenai tradisi sawo asin dilakukan untuk menjaga pengetahuan lokal yang mulai jarang dikenal generasi muda. Menurutnya, penyusunan buku yang dilakukan bersama tim diharapkan dapat menjadi sumber informasi sekaligus sarana pewarisan budaya kepada masyarakat luas.

 

“Harapan kami, dokumentasi ini menjadi langkah kecil untuk menjaga ingatan budaya, menghidupkan kembali pengetahuan lokal yang mulai terlupakan, serta menumbuhkan kecintaan terhadap warisan Nusantara,” ujarnya.

Diskusi yang dipandu Mardiana tersebut menjadi ruang berbagi pengetahuan mengenai nilai budaya yang terkandung dalam tradisi sawo asin. Melalui kegiatan ini, masyarakat berharap warisan pengetahuan pangan leluhur Jeme Bakhi tidak hanya terdokumentasi, tetapi juga tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari identitas budaya daerah.