Yogjakarta, Warganet – Francisca Rani Indira (18) berhasil mewujudkan mimpinya menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) setelah melalui perjuangan yang tidak mudah. Di tengah keterbatasan ekonomi, Rani bahkan harus belajar di rumah sakit sambil menemani ayahnya yang dirawat hingga akhirnya berhasil diterima di Program Studi Manajemen dan Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM serta memperoleh subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga 100 persen.
Mengutip situs resmi UGM, Kamis (23/7/2026), Rani mengaku sempat kesulitan membagi fokus antara belajar menghadapi Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dan Ujian Mandiri UGM Computer Based Test (UM UGM CBT) dengan mendampingi sang ayah yang tengah menjalani perawatan.
“Waktu itu bapak dirawat di rumah sakit, jadi buat belajar juga susah fokus. Setelah nggak keterima SNBT, aku langsung belajar lagi buat UM UGM,” ujarnya saat diwawancara, Kamis (23/7).
Di tengah perjuangannya mengejar bangku kuliah, Rani juga harus menghadapi duka mendalam setelah sang ayah meninggal dunia. Dengan waktu persiapan yang hanya tersisa 11 hari menjelang UM UGM CBT, ia memilih bangkit dan memaksimalkan waktu belajar di perpustakaan daerah hingga malam hari.
“Aku seringnya belajar di Perpusda. Selama sekitar 11 hari aku mengerjakan 100 sampai 200 soal setiap hari,” kenangnya.
Berkat kerja keras dan ketekunannya, Rani akhirnya berhasil diterima di Program Studi Manajemen dan Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM melalui jalur UM UGM CBT.
Sejak sang ayah meninggal dunia, Rani tinggal bersama ibunya, Yuani (48), di rumah sederhana di Dusun Suren Wetan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul. Sang ibu menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai buruh di sebuah rumah produksi keripik tempe.
Di balik perjuangannya, Rani memiliki motivasi sederhana, yakni membahagiakan ibunya sekaligus mewujudkan harapan mendiang ayahnya yang sejak lama ingin melihat putrinya kuliah di UGM.
“Aku pengen banget ngebahagiain ibu karena sekarang tinggal punya ibu. Terus bapak juga dulu pengen banget anaknya bisa masuk UGM. Bapak yang dari dulu mengantar aku sekolah, menemani ambil rapor, sampai menyemangati aku dalam belajar,” ungkapnya haru.
Perjuangan Rani mendapat dukungan penuh dari sang ibu. Meski sempat khawatir dengan biaya kuliah, Yuani dan almarhum suaminya tidak pernah mematahkan semangat putrinya untuk melanjutkan pendidikan.
“Senang sekali. Dari kemarin bapaknya juga ingin anaknya bisa masuk UGM. Enggak tahu nanti biayanya bagaimana, diurus nanti sambil jalan,” ujar Yuani mengenang cita-cita sang suami.
Perjuangan Rani berbuah manis. Selain diterima di UGM, ia juga memperoleh subsidi UKT hingga 100 persen atau kuliah gratis. Yuani berharap putrinya dapat menjalani perkuliahan dengan lancar dan meraih cita-cita yang selama ini diperjuangkan.
“Semoga diberikan kelancaran kuliahnya, dipermudah urusannya. Rajin belajar ya, nak, biar orang tua juga semangat,” pungkas Yuani.
Selain berprestasi di bidang akademik, Rani dikenal aktif berorganisasi selama bersekolah di SMAN 2 Bantul. Sejak kelas X, ia bergabung dalam tim riset sekolah dan pernah melakukan penelitian mengenai kehidupan pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.
Rani juga dipercaya menjadi Wakil Ketua Palang Merah Remaja (PMR), aktif mengelola perpustakaan melalui organisasi Prapanca Muda, serta terlibat dalam berbagai kegiatan kerohanian. Menurutnya, pengalaman berorganisasi dan melakukan riset mengajarkannya arti penting menyelesaikan setiap proses.
“Guruku pernah bilang, di riset itu menang adalah bonus. Yang paling berharga itu ketika kita bisa menyelesaikan prosesnya sampai selesai,” tuturnya.






