Jakarta, Warganet – Kekhawatiran terhadap kualitas dan daya tahan baterai masih menjadi salah satu alasan sebagian masyarakat ragu beralih ke mobil hybrid. Melalui informasi yang dipublikasikan di website resminya, Senin (20/7) Toyota Indonesia menjelaskan bahwa pelanggan tidak perlu khawatir karena baterai hybrid telah dirancang dan diuji untuk menghadapi kondisi iklim tropis Indonesia.
Toyota menyebut suhu panas ekstrem dan kemacetan lalu lintas menjadi tantangan utama bagi baterai mobil hybrid di Indonesia. Paparan suhu tinggi dapat mempercepat degradasi sel baterai, memicu penurunan efisiensi bahan bakar, serta membuat motor listrik bekerja kurang optimal.
Untuk menjawab keraguan tersebut, Toyota memaparkan enam alasan yang dinilai menjadi bukti kualitas dan daya tahan baterai hybrid.
Pertama, Toyota memiliki rekam jejak panjang dalam mengembangkan kendaraan hybrid di Indonesia sejak Prius diperkenalkan pada 2009. Melalui riset dan pengembangan yang berkelanjutan, masukan pelanggan dijadikan acuan untuk menghasilkan baterai yang memenuhi standar Quality, Durability, and Reliability (QDR) Toyota.
Kedua, New Kijang Innova Zenix Hybrid EV yang hadir sejak 2022 disebut telah membuktikan keandalan baterai hybrid. Kendaraan ini dikembangkan dengan menyesuaikan kebutuhan pelanggan, perubahan iklim yang ekstrem, serta kondisi jalan di berbagai daerah di Indonesia. Dengan usia pakai sekitar empat tahun, baterai hybrid diklaim mampu beradaptasi dengan baik.
Ketiga, Toyota menghadirkan dukungan 340 bengkel resmi di berbagai wilayah Indonesia. Jaringan tersebut memastikan pelanggan dapat melakukan perawatan dan perbaikan kendaraan hybrid dengan aman dan nyaman.
Keempat, Toyota memberikan garansi baterai hybrid hingga delapan tahun atau 160.000 kilometer, mana yang tercapai lebih dahulu. Menurut Toyota, garansi tersebut menjadi bukti keyakinan perusahaan terhadap kualitas baterai hybrid yang digunakan.
Kelima, Toyota menghadirkan program Toyota Hybrid Health Check, yaitu pemeriksaan baterai secara gratis bagi kendaraan Hybrid EV dan Battery EV berusia 3–5 tahun atau memiliki jarak tempuh 50.000–100.000 kilometer yang menjalani servis berkala di bengkel resmi. Setelah pemeriksaan selesai, pelanggan akan memperoleh sertifikat resmi sebagai bukti kondisi kesehatan baterai.
Keenam, Toyota menyebut nilai jual kembali mobil hybrid tetap terjaga. Rata-rata harga jual kembali berada di kisaran 85–88 persen pada tahun pertama, sementara setelah tiga tahun masih bertahan di kisaran 70 persen dari harga saat pertama dibeli.
Selain menggunakan baterai tegangan tinggi sebagai sumber energi motor listrik, mobil hybrid Toyota juga tetap menggunakan aki 12 volt atau auxiliary battery untuk menyuplai sistem kelistrikan tegangan rendah sebagaimana mobil konvensional.
Toyota juga menjelaskan bahwa Toyota Hybrid System (THS) memungkinkan kolaborasi optimal antara mesin bensin dan motor listrik untuk menghasilkan efisiensi bahan bakar yang lebih baik serta emisi yang lebih rendah. Sementara itu, Series Parallel Hybrid System dengan Power Split Device yang telah dipatenkan Toyota Global diklaim mampu membagi tenaga mesin bensin dan motor listrik secara cepat, halus, dan responsif.







