Kesehatan

Benarkah Tanaman Herbal Bisa Tingkatkan Produksi ASI? Ini Temuan Mahasiswa UGM

8
×

Benarkah Tanaman Herbal Bisa Tingkatkan Produksi ASI? Ini Temuan Mahasiswa UGM

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, Warganet – Benarkah tanaman herbal dapat membantu meningkatkan produksi ASI? Pertanyaan tersebut menjadi fokus penelitian yang dibawa mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Ilham Gibran, ke ajang 20th World Congress of Basic and Clinical Pharmacology (WCP2026) di Melbourne, Australia, pada 12–17 Juli 2026. Penelitian itu mengulas bukti ilmiah mengenai herbal galaktagog, yakni tanaman yang digunakan untuk membantu meningkatkan produksi ASI.

 

Malnutrisi dan stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif secara optimal merupakan salah satu intervensi paling efektif untuk mendukung pertumbuhan anak sekaligus menurunkan risiko stunting. Namun, lebih dari 50 persen ibu pascapersalinan menghadapi tantangan berupa produksi ASI yang tidak mencukupi sehingga diperlukan berbagai pendekatan guna mendukung keberhasilan laktasi.

 

Penelitian tersebut dipresentasikan oleh Gibran, mahasiswa program fast-track Magister Ilmu Biomedik dan Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM. Dengan bimbingan Prof. Dr. Mustofa, Apt., M.Kes. dan drg. Fara Silvia Yuliani, M.Sc., Ph.D., ia mempresentasikan tinjauan sistematis berjudul Translational Evidence for Herbal Galactagogues: A Systematic Review pada tema Drug Discovery – Basic and Translational.

 

Melalui website resmi Universitas Gadjah Mada dijelaskan, penelitian tersebut mengangkat pemanfaatan herbal galaktagog sebagai salah satu alternatif yang banyak dimanfaatkan masyarakat di berbagai negara untuk membantu meningkatkan produksi ASI.

 

Menurut Gibran, penggunaan tanaman herbal untuk membantu ibu menyusui telah berlangsung secara turun-temurun di banyak budaya, termasuk di Indonesia. Namun, efektivitas maupun keamanannya tidak selalu didukung oleh tingkat bukti ilmiah yang sama. “Penelitian ini berupaya menyusun gambaran menyeluruh mengenai bukti ilmiah yang telah tersedia sehingga dapat menjadi rujukan bagi peneliti, tenaga kesehatan, maupun pengambil kebijakan dalam mengembangkan intervensi berbasis bukti,” kata Gibran.

 

Melalui sintesis puluhan penelitian dari berbagai negara, tinjauan sistematis tersebut memetakan herbal yang telah memiliki dukungan ilmiah paling kuat sekaligus mengidentifikasi kesenjangan penelitian yang masih perlu dijawab. Pendekatan seperti ini dinilai penting karena membantu menghubungkan penelitian dasar di laboratorium dengan penerapannya dalam praktik pelayanan kesehatan atau yang dikenal sebagai penelitian translasional. “Pengembangan obat herbal tidak hanya didasarkan pada pengalaman empiris, tetapi juga pada bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

 

Bagi Indonesia, penelitian ini dinilai relevan karena memiliki keanekaragaman hayati yang besar dengan berbagai tanaman yang telah lama dimanfaatkan masyarakat untuk mendukung kesehatan ibu. Namun, agar potensi tersebut dapat berkembang, diperlukan penelitian yang memenuhi standar ilmiah internasional. “Kehadiran hasil penelitian mahasiswa UGM di forum global menjadi salah satu langkah untuk memperkenalkan potensi tersebut sekaligus memperoleh masukan dari komunitas ilmiah internasional,” jelasnya.

 

Selain menjadi ajang diseminasi hasil penelitian, WCP2026 juga membuka ruang kolaborasi antara akademisi, klinisi, regulator, dan industri farmasi dalam mengembangkan terapi yang lebih aman, efektif, dan berbasis bukti. Selama enam hari penyelenggaraan, kongres menghadirkan berbagai simposium, presentasi ilmiah, diskusi panel, hingga kegiatan jejaring yang membahas isu-isu strategis, mulai dari penemuan obat baru, farmakologi klinis, toksikologi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pengembangan obat.

 

Gibran menilai partisipasi dalam forum internasional menjadi kesempatan penting bagi peneliti muda Indonesia untuk tidak hanya mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga membangun jejaring kolaborasi yang dapat mempercepat pengembangan riset di masa mendatang. “Harapannya, penelitian mengenai bahan alam Indonesia dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan yang berbasis bukti ilmiah,” ujarnya.

 

Keikutsertaan mahasiswa UGM dalam WCP2026 menunjukkan bahwa penelitian yang dikembangkan di lingkungan universitas tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi turut berkontribusi dalam percakapan global mengenai tantangan kesehatan masyarakat. Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap pengembangan obat berbasis bahan alam dan penguatan layanan kesehatan ibu dan anak, partisipasi ini sekaligus memperkuat posisi UGM sebagai universitas riset yang aktif membangun kolaborasi internasional dan mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.