Kesehatan

Bukan Gantikan Dokter, AI dan Robotik Jadi Pendukung Layanan Medis Masa Depan Indonesia

9
×

Bukan Gantikan Dokter, AI dan Robotik Jadi Pendukung Layanan Medis Masa Depan Indonesia

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Warganet  – Kementerian Kesehatan terus mempercepat transformasi layanan kesehatan melalui pengembangan teknologi bedah robotik sebagai bagian dari pilar transformasi teknologi kesehatan.

 

Selain menyiapkan pengadaan 40 unit robot bedah untuk rumah sakit pemerintah, Kementerian Kesehatan juga membangun ekosistem kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), memperluas pelatihan dokter, serta mendorong transfer teknologi agar industri alat kesehatan nasional semakin mandiri.

 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, robotik merupakan salah satu dari tiga teknologi kesehatan prioritas Kementerian Kesehatan bersama kecerdasan artifisial dan bioteknologi.

 

“Robotik adalah tren global. Teknologi ini memberikan kualitas layanan yang lebih baik bagi pasien, operasi lebih presisi, nyeri lebih ringan, dan masa rawat lebih singkat. Tugas pemerintah adalah memastikan layanan ini semakin mudah diakses, berkualitas, dan biayanya semakin terjangkau,” ujarnya, melalui siaran pers Kementerian Kesehatan RI, Senin (27/7)

 

Menurut Menkes, pemanfaatan teknologi robotik dan AI dalam bidang kesehatan bukan untuk menggantikan peran dokter, tetapi menjadi pendukung yang membantu tenaga medis mengambil keputusan berdasarkan data klinis.

 

“AI bukan menggantikan dokter, tetapi menjadi augmented intelligence yang membantu dokter mengambil keputusan berdasarkan pembelajaran dari ribuan hingga jutaan data klinis,” jelasnya.

 

Menkes mengatakan, Indonesia saat ini tengah membangun tiga basis data nasional yang saling terintegrasi, yaitu data kependudukan, data klinis, dan data genomik. Ke depan, data tindakan bedah robotik juga akan dihimpun secara nasional sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan AI kesehatan.

 

Menurutnya, pengembangan teknologi tersebut bertujuan meningkatkan standar mutu layanan kesehatan dengan tetap mempertahankan keputusan klinis berada di tangan dokter.

 

Dalam upaya mempercepat adopsi teknologi bedah robotik, Kementerian Kesehatan juga membentuk Komite Robotik yang bertugas menyusun arah pengembangan teknologi robotik di Indonesia, mulai dari kebutuhan teknologi, standar pelayanan, hingga strategi agar layanan dapat diakses masyarakat dengan biaya lebih efisien.

 

Selain itu, Kemenkes memperkuat layanan bedah minimal invasif melalui program nasional pelatihan operasi laparoskopi bagi dokter bedah di 514 kabupaten dan kota.

 

“Kita ingin semakin banyak dokter Indonesia memiliki kompetensi bedah minimal invasif dan robotik. Jangan sampai kemampuan ini hanya dimiliki kelompok tertentu atau hanya tersedia di kota-kota besar,” kata Menkes.

 

Kementerian Kesehatan juga akan mewajibkan adanya transfer teknologi dalam pengadaan robot bedah, terutama untuk produksi komponen habis pakai (consumables) di dalam negeri. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menurunkan biaya tindakan bedah robotik sekaligus memperkuat industri alat kesehatan nasional.

 

Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara mengatakan Indonesia memiliki kapasitas riset yang kuat di bidang teknik biomedis, biomekanika, robotika, dan kecerdasan artifisial. Namun, pengembangan teknologi kesehatan membutuhkan kolaborasi erat antara akademisi dan tenaga medis.

 

“Fasilitasi dari Kementerian Kesehatan sangat penting agar peneliti dan dokter dapat bekerja bersama mengembangkan teknologi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia,” ujarnya.

 

Melalui sinergi pemerintah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan industri, Kementerian Kesehatan menargetkan Indonesia menjadi salah satu pusat pengembangan teknologi bedah robotik di kawasan sekaligus memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih berkualitas, merata, dan terjangkau bagi masyarakat.