Selebrity

Denny Sumargo Perankan Hajime, Kisah Nyata di Balik Baby Udon Bikin Haru

8
×

Denny Sumargo Perankan Hajime, Kisah Nyata di Balik Baby Udon Bikin Haru

Sebarkan artikel ini

Palembang, Warganet – Kisah cinta, perjuangan mendapatkan buah hati hingga keikhlasan menghadapi kehilangan diangkat ke layar lebar melalui film Baby Udon. Film produksi kolaborasi Sumargo Films dan LYTO Pictures ini terinspirasi dari kisah nyata Fanny Kondoh dan mendiang suaminya, Hajime Kondoh.

 

Menjelang penayangannya di bioskop pada 3 September 2026, film tersebut memperkenalkan teaser poster dan trailer kepada publik dalam acara yang digelar di OPI Mall XXI, Palembang, Sabtu (22/8/2026).

 

Film yang disutradarai Fajar Bustomi itu membawa penonton mengikuti perjalanan Fanny dan Hajime dalam membangun rumah tangga. Salah satu bagian penting dalam kisah mereka adalah perjuangan mendapatkan keturunan melalui program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF).

 

Namun, perjuangan tersebut tidak berhenti pada keinginan memiliki buah hati. Kehidupan pasangan ini kemudian diuji ketika Hajime mengalami sakit keras. Di tengah kondisi sang suami yang semakin memburuk, Fanny tetap mendampingi orang yang dicintainya.

 

Kisah tentang cinta, harapan, perjuangan, kehilangan dan keikhlasan inilah yang menjadi kekuatan utama film Baby Udon.

 

Untuk menghidupkan sosok Hajime ke layar lebar, aktor sekaligus produser Denny Sumargo dipercaya memerankannya. Sementara karakter Fanny dimainkan Caitlin Halderman.

 

Memerankan sosok yang benar-benar pernah hidup menjadi tantangan tersendiri bagi Denny. Ia tidak hanya mengandalkan akting, tetapi juga melakukan pendalaman karakter melalui berbagai rekaman kehidupan Hajime.

 

Denny bahkan mempelajari footage kehidupan Hajime, termasuk rekaman pada masa-masa menjelang kepergiannya. Ia juga melakukan wawancara dengan Fanny untuk memahami lebih jauh sosok pria yang akan diperankannya.

 

Yang membuat proses tersebut semakin personal, sejumlah dialog Hajime sebelum meninggal turut dimasukkan ke dalam film.

 

“Banyak dialog-dialog Hajime pada saat sebelum meninggal saya masukkan ke dalam film ini sebagai dialog film supaya real,” ungkapnya.

 

Menurut Denny, karakter Hajime sangat berbeda dengan dirinya. Hajime digambarkan sebagai sosok yang rileks, lembut, tenang, sopan dan sangat menjaga sikap.

 

“Beda karakter. Hajime adalah karakter yang sangat rileks, sangat soft spoken, sangat lembut, sangat polite, sangat proper,” jelasnya.

 

Tantangan Denny tidak berhenti pada karakter. Ia juga harus mempelajari bahasa Jepang, memahami kultur dan budaya yang berbeda, sekaligus menyesuaikan logat yang tidak biasa digunakannya.

 

“Kedua, bahasa Jepang. Itu pasti saya harus berlatih. Ketiga, kultur dan budaya berbeda, serta logat yang tidak umum,” katanya.

 

Namun, bagi Denny, tantangan terbesar justru bagaimana membangun chemistry dengan Caitlin Halderman. Menurutnya, kekuatan film bukan hanya ditentukan oleh kemampuan akting masing-masing pemain, tetapi bagaimana hubungan kedua karakter tersebut terasa hidup di layar.

 

“Lebih ke membangun chemistry sama Caitlin. Karena di sini bukan masalah acting perorangan bagus, tapi chemistry-nya harus bisa menghidupkan peran itu,” tuturnya.

 

Salah satu adegan yang paling emosional dalam film tersebut adalah ketika Hajime menitipkan anak dan istrinya kepada Allah sebelum merelakan kepergiannya.

 

Adegan tersebut menjadi bagian yang menyentuh dalam cerita karena menggambarkan bagaimana seseorang berusaha melepaskan orang yang dicintainya dengan penuh keikhlasan.

 

“Kalau scene yang emosional, aku pikir pasti kita sama-sama setuju ketika Hajime menitipkan anak dan istrinya kepada Allah, dan merelakan dia pergi,” ujar Denny.

 

Denny mengatakan dirinya tidak ingin menilai sendiri hasil aktingnya sebagai Hajime. Ia menyerahkan penilaian tersebut kepada penonton setelah film resmi tayang.

 

“Kalau dibilang waktu persiapan juga panjang, tapi saya nggak bisa menilai diri sendiri. Nanti penonton yang menilai,” pungkasnya.

 

Caitlin Keluar dari Zona Nyaman

Sementara itu, Caitlin Halderman yang memerankan Fanny Kondoh mengaku peran tersebut menjadi tantangan baru dalam perjalanan kariernya.

 

Selama ini, Caitlin lebih sering tampil dalam film dengan karakter remaja maupun cerita tentang kehidupan anak sekolah. Karena itu, Baby Udon menjadi kesempatan baginya untuk keluar dari zona nyaman.

 

“Jadi, ini adalah sesuatu yang pertama kali sangat ingin aku buat. Aku mau menunjukkan kepada orang-orang bahwa aku bisa keluar dari comfort zone aku, bahwa aku bisa lebih dari apa yang selama ini aku bisa. Semoga berhasil,” ungkap Caitlin.

 

Di sisi lain, Fanny Kondoh sebagai pemilik kisah nyata yang diangkat dalam film berharap pesan mengenai ketulusan dan keikhlasan dapat dirasakan oleh penonton.

 

Menurut Fanny, kisah tersebut bukan hanya tentang perjuangan mendapatkan anak, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mencintai, menjaga keluarga dan akhirnya belajar merelakan orang yang dicintai.

 

“Aku juga berharap penonton bisa merasakan pesan tersebut, terutama tentang bagaimana mencintai, menjaga keluarga, dan merelakan seseorang dengan penuh keikhlasan,” ungkap Fanny.

 

Baby Udon dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 3 September 2026. Film ini menghadirkan kisah cinta Fanny dan Hajime dengan segala perjuangan, harapan serta kehilangan yang mereka lalui hingga menjadi sebuah cerita tentang cinta dan keikhlasan. (fly)