Teknologi

Tak Hanya Pamer Prototipe, BRIN Kenalkan Simulasi Reaktor Nuklir di IID 2026

4
×

Tak Hanya Pamer Prototipe, BRIN Kenalkan Simulasi Reaktor Nuklir di IID 2026

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Warganet – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tidak hanya menampilkan berbagai prototipe hasil riset dalam gelaran Indonesia Inventors Day (IID) 2026. BRIN juga memperkenalkan simulasi control rod reaktor nuklir kepada publik dalam pameran yang berlangsung di Gedung SMESCO Indonesia, Jakarta, 3–6 Oktober 2026.

 

Dalam gelaran tersebut, BRIN menampilkan sejumlah hasil riset dan inovasi nasional, di antaranya prototipe Pesawat Tanpa Awak LSU-02 VTOL, Kapal Multipurpose Decommissioning and Salvage Vessel (MDSV), Floating Offshore Wind Turbine 1 kW, serta reaktor nuklir dengan simulasi control rod.

 

Kehadiran berbagai hasil riset tersebut menjadi bagian dari upaya BRIN mendorong penguatan hilirisasi riset dan inovasi melalui kolaborasi lintas sektor. BRIN menekankan agar hasil invensi dan inovasi tidak berhenti pada tahap penciptaan, tetapi dapat terus dikembangkan, dimanfaatkan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

 

Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah BRIN, Driszal Fryantoni, mengatakan ekosistem riset membutuhkan keterhubungan antara pengetahuan, teknologi, kreativitas, kebutuhan masyarakat, dan kekuatan industri.

 

“Kita membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan untuk menciptakan invensi baru, yaitu ekosistem yang mampu menghubungkan pengetahuan, teknologi, kreativitas, kebutuhan masyarakat, dan kekuatan industri. Sehingga sebuah invensi dapat berkembang menjadi inovasi yang memberikan dampak nyata,” kata Driszal saat pembukaan IID 2026, Sabtu (3/10).

 

Menurut Driszal, IID 2026 tidak hanya menjadi ruang untuk berkompetisi dan memamerkan hasil inovasi, tetapi juga menjadi tempat bertemunya berbagai pihak untuk membangun kolaborasi.

 

Melalui forum tersebut, pelajar dan mahasiswa dapat bertemu dengan peneliti, sementara akademisi dapat berdiskusi dengan pelaku industri. Para periset BRIN juga turut mendukung proses penilaian dan apresiasi terhadap karya-karya inovatif yang dihasilkan para inventor.

 

“Inventor dapat menemukan mitra untuk mengembangkan produknya, dan pemerintah dapat melihat lebih dekat berbagai potensi teknologi yang berkembang di masyarakat,” ujarnya.

 

Ia menegaskan, tantangan riset dan inovasi tidak berhenti pada publikasi, laporan penelitian, maupun prototipe yang dikembangkan di laboratorium. Menurutnya, hasil riset perlu terus dikembangkan dan dimanfaatkan agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

 

Perhatian juga diberikan kepada para inventor muda. Driszal menilai kemajuan teknologi Indonesia ke depan turut bergantung pada keberanian generasi muda untuk mencoba, menciptakan sesuatu yang baru, serta menyempurnakan gagasan dan prototipe yang dikembangkan.

 

“Inovasi pada dasarnya adalah sebuah proses belajar, dan yang terpenting adalah bagaimana sebuah ide terus dikembangkan. Kemudian diuji, diperbaiki, dan pada akhirnya dapat menjawab persoalan yang nyata,” jelasnya.

 

Melalui IID 2026, BRIN menegaskan komitmennya memperkuat ekosistem riset dan inovasi nasional melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Gelaran tersebut diharapkan menjadi platform yang mempertemukan gagasan dengan peluang, teknologi dengan kebutuhan, serta inventor dengan mitra yang tepat.

 

IID 2026 diselenggarakan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA) dengan partisipasi peserta dari 20 negara, yakni Indonesia, Thailand, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, Iran, Rumania, Arab Saudi, Yordania, Vietnam, Filipina, Uzbekistan, Tiongkok, Bangladesh, Kroasia, Polandia, Makau, Laos, dan Uni Emirat Arab.