Kepulauan Seribu, Warganet – Kisah seorang perempuan yang lahir dan tumbuh sebagai anak pulau, tetapi justru memiliki ketakutan terhadap laut, akan diangkat menjadi film fiksi pendek yang mengambil lokasi produksi di Kepulauan Seribu.
Melansir laman resmi Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, produksi film tersebut masuk dalam program Jakarta Film Fund Jakarta Film Week 2026 dan dijadwalkan menjalani proses shooting di sejumlah lokasi di Kepulauan Seribu pada 21-23 Agustus 2026.
Dukungan terhadap produksi film tersebut disampaikan Bupati Kepulauan Seribu Muhammad Fadjar Churniawan saat menerima audiensi tim Hue Colours Creative Lab yang diwakili Produser sekaligus Penulis, Devi Fahmi Indriyani.
Film ini mengangkat cerita tentang seorang perempuan anak pulau yang memiliki ketakutan terhadap laut. Konflik tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan sang tokoh dalam menghadapi ketakutannya dan bertahan menjalani kehidupan.
Cerita tersebut juga akan dibalut dengan sentuhan kisah percintaan sehingga menghadirkan sisi personal dalam kehidupan masyarakat kepulauan.
Tidak hanya menjadikan Kepulauan Seribu sebagai latar cerita, produksi film nantinya akan mengeksplorasi kehidupan masyarakat kepulauan, termasuk hubungan mereka dengan laut serta potensi wisata dan lingkungan yang dimiliki wilayah tersebut.
Bupati Kepulauan Seribu Muhammad Fadjar Churniawan mengatakan pemerintah daerah siap mendukung kelancaran proses produksi, terutama terkait kebutuhan transportasi laut dan pengamanan selama kegiatan berlangsung.
“Kabupaten Kepulauan Seribu siap membantu kelancaran produksi film tersebut, khususnya dalam dukungan transportasi laut dan pengamanan,” kata Fadjar, Rabu (12/8/2026).
Menurut Fadjar, kehadiran produksi film di Kepulauan Seribu diharapkan tidak hanya menghasilkan karya audiovisual, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap promosi daerah.
Ia berharap film tersebut dapat memperoleh apresiasi dalam ajang perfilman dan semakin memperkenalkan Kepulauan Seribu kepada masyarakat luas.
“Semoga filmnya mendapatkan nominasi dan terima kasih kepada Mbak Devi yang sudah memilih Kepulauan Seribu sebagai salah satu lokasi produksi,” tuturnya.
Meski memberikan dukungan, Fadjar menegaskan seluruh ketentuan administrasi dan perizinan tetap harus dipenuhi oleh tim produksi, terutama untuk penggunaan lokasi yang berada dalam kewenangan Taman Nasional Kepulauan Seribu.
“Administrasinya tetap diajukan. Ini penting, selain untuk kelancaran kegiatan, juga agar seluruh prosesnya sesuai ketentuan,” jelas Fadjar.
Dengan mengangkat kisah perempuan anak pulau yang berhadapan dengan ketakutannya terhadap laut, film tersebut diharapkan mampu menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat kepulauan sekaligus memperlihatkan sisi lain Kepulauan Seribu melalui layar film.
Produksi yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari tersebut juga menjadi peluang untuk memperkenalkan kehidupan, lingkungan, dan potensi wisata Kepulauan Seribu melalui karya sinema.






