Palembang, Warganet – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengaku penasaran dengan sosok di balik lagu “MBG” yang belakangan viral di media sosial. Bahkan, ia secara terbuka menyampaikan keinginannya untuk bertemu langsung dengan pencipta lagu tersebut.
Hal itu disampaikan Bahlil saat berbincang dengan Raffi Ahmad dalam sebuah video yang diunggah melalui akun Instagram @raffinagita1717. Ia mengaku lagu tersebut kerap didengarnya hingga menjadi rutinitas setiap pagi.
“Dinda, saya minta tolong untuk mengundang kalau yang bersangkutan berkenan. Saya ingin mengundang untuk berbincang-bincang sekalian makan,” ujar Bahlil.
Menurutnya, popularitas lagu MBG bahkan sudah sampai ke lingkungan keluarganya. Ia mengaku sang anak sering menggoda dirinya karena lagu tersebut.
“Karena saya juga penasaran. Setiap pagi bangun, anak saya saja ngetawain saya. Bapak MBG, Wah,” sambungnya sambil tertawa.
Raffi Ahmad kemudian mengungkapkan bahwa putranya, Rafathar, juga menjadi penggemar lagu tersebut dan kerap menanyakan sosok Bahlil.
Bahlil mengaku hingga kini belum mengetahui siapa pencipta lagu yang viral itu. Namun, ia menilai fenomena tersebut sebagai bentuk kreativitas masyarakat yang patut dihargai.
“Saya sendiri tidak tahu siapa yang buat dan itu terjadi secara alami. Kalau boleh, saya ingin sekali bertemu dengan pembuatnya. Saya menghargai kreativitas anak-anak muda dan teman-teman semua,” ujarnya.
Meski demikian, Bahlil mengingatkan pentingnya menggunakan media sosial secara bijak. Menurutnya, kebebasan berekspresi harus tetap dilakukan secara terukur agar tidak menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.
“Di era demokrasi, media sosial ini penting. Namun kalau boleh, juga dipergunakan dengan terukur. Jangan sampai memicu hal-hal yang bisa mengganggu soliditas kita sebagai anak bangsa,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kritik, parodi, maupun kreativitas di ruang digital merupakan bagian dari konsekuensi yang harus diterima oleh seorang pejabat publik. Karena itu, ia memilih menyikapi fenomena lagu MBG dengan santai dan terbuka.
“Risiko menjadi pejabat publik memang harus menerima semuanya. Yang penting kreativitas itu digunakan dalam rangka yang baik dan benar,” tutupnya.








