Yogyakarta, Warganet – Momen pengumuman kelulusan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan Mikail Fajar Dwicaksono. Putra pasangan Sumarno dan Tiarti itu akhirnya berhasil diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB), kampus impian yang telah lama ia cita-citakan.
Di balik kabar bahagia tersebut, tersimpan kisah perjuangan keluarga sederhana yang mengharukan. Ayah Mikail bekerja sebagai tukang ngepel, sementara sang ibu sehari-hari berjualan sayur demi memenuhi kebutuhan keluarga.
“Saya hanya tukang ngepel, ibunya tukang jualan sayur,” ujar Sumarno saat menceritakan perjalanan putranya meraih mimpi.
Mikail mengaku sempat tak percaya saat melihat namanya dinyatakan lolos ke ITB. Tubuhnya langsung merinding dan berkeringat dingin karena haru. Kisah ini diungkap melalui unggahan video akun Instagram @tuturmediadigital yang dipublikasikan pada Rabu (24/6).
“Begitu diterima, Mikail merinding, keluar keringat dingin. Langsung lari ke tempat ibunya. Dia bilang, ‘Iya Bu, aku diterima di ITB’,” kenang Sumarno.
Mendengar kabar tersebut, Tiarti langsung memeluk putranya. Tangis haru pecah di rumah sederhana mereka. Perjuangan bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil.
Namun di tengah suasana bahagia itu, Mikail justru mengajukan satu pertanyaan yang membuat suasana kembali hening.
“Sanggupkah Bapak dan Ibu membayar UKT-ku?”
Tanpa ragu, sang ibu menjawab, “Sanggup.” Jawaban itu kemudian ditegaskan kembali oleh Sumarno.
Pertanyaan itu lahir bukan tanpa alasan. Mikail memahami kondisi ekonomi keluarganya. Ia sadar biaya kuliah di perguruan tinggi menjadi tantangan berikutnya setelah berhasil lolos seleksi.
Meski demikian, kedua orang tuanya tetap memberikan dukungan penuh agar putra mereka dapat melanjutkan pendidikan dan menggapai cita-citanya.
Prestasi Mikail pun mendapat perhatian dari pihak ITB. Rektor bersama Dekan FSRD bahkan datang langsung ke kediamannya di Condongcatur, Sleman, untuk memberikan apresiasi atas bakat seni lukis yang telah ia tekuni sejak kecil.
Lulusan SMKN 3 Kasihan Bantul (SMSR Yogyakarta) itu dikenal memiliki kemampuan seni rupa dengan aliran realis kontemporer. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Mikail telah mengasah kemampuan menggambarnya hingga berhasil menembus salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
Kisah Mikail menjadi pengingat bahwa mimpi besar bisa diraih oleh siapa saja. Di balik profesi sederhana kedua orang tuanya, tersimpan doa, kerja keras, dan pengorbanan yang akhirnya mengantarkan sang putra menembus gerbang ITB.







