Depok, Warganet – Kuliner khas Betawi Depok mulai mendapat perhatian baru dari generasi muda. Dua anak muda asal Kota Depok, Adam Hera Hutabarat dan Riska Sakinah, menggagas proyek gastronomi “Rasakala” untuk memperkenalkan kuliner khas Betawi Depok sekaligus mengangkat cerita dan budaya di balik setiap hidangan.
Melansir Berita Resmi Pemerintah Kota Depok, Sabtu (8/8/2026), Rasakala merupakan proyek sosial yang dikembangkan Adam dan Riska, yang merupakan Abang-Mpok Depok 2024 sekaligus finalis Mojang Jajaka Jawa Barat.
Proyek tersebut mengajak generasi muda, khususnya pelajar jurusan tata boga dan kuliner, untuk mengenal lebih dekat berbagai makanan khas Betawi Depok. Tidak hanya mencicipi, peserta juga diajak mempelajari bahan, teknik memasak, peralatan tradisional hingga filosofi yang terkandung dalam setiap hidangan.
Adam menjelaskan, Rasakala merupakan akronim dari “Rajut Asa Sebuah Kota Lewat Cerita”.
“Maknanya simpel, kita ingin menguatkan lagi identitas tempat atau place identity Kota Depok sebagai ruang Betawi, ruang seni Betawi Ora,” ujar Adam.
Menurutnya, makanan tidak semata-mata berbicara mengenai rasa. Di dalam sebuah hidangan terdapat cerita, seni, teknik memasak hingga filosofi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
“Lewat proyek Rasakala ini, kita ingin menghadirkan bahwa sebuah masakan itu bukan cuma sebuah hidangan, tetapi sebuah cerita yang dikemas dengan seni, teknik memasak, dan filosofi di balik masakan dan cara memasaknya itu sendiri,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, Adam dan Riska melibatkan para pelajar untuk mengenal berbagai kuliner khas Betawi Depok. Sejumlah bahan yang digunakan bahkan diperoleh dari Kelompok Wanita Tani (KWT) di wilayah Tapos sebelum kemudian diolah bersama di Rumah Budaya.
Riska mengatakan pendekatan tersebut penting untuk memperkuat pengenalan kuliner Betawi Depok kepada generasi muda.
“Kalau kita bicara Kota Depok, orang-orang belum tentu langsung mengingat budaya Betawinya ataupun kulinernya,” kata Riska.
Padahal, menurutnya, Depok memiliki sejumlah kuliner yang dapat menjadi identitas daerah. Beberapa di antaranya adalah pecak, sayur besan, sayur asam bening hingga sayur godog asam.
Adam pun berharap kuliner tersebut dapat menjadi salah satu daya tarik ketika masyarakat maupun wisatawan berkunjung ke Depok.
“Kalau kita ke Bogor, kita tahu harus makan soto mie. Kalau ke Bandung, kita tahu ada batagor. Nah, ketika orang datang ke Depok, kami ingin mereka tahu harus makan pecak, sayur besan, sayur asam bening atau sayur godog asam,” tuturnya.
Bagi Adam dan Riska, pengembangan kuliner lokal juga memiliki peluang untuk dikaitkan dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Makanan dapat dikemas tidak hanya sebagai produk kuliner, tetapi juga sebagai pengalaman yang membuat orang mengenal karakter sebuah daerah.
Riska berharap Rasakala tidak berhenti sebagai proyek sosial dalam rangkaian Mojang Jajaka Jawa Barat 2026. Ia ingin kegiatan tersebut dapat dikembangkan menjadi program berkelanjutan melalui kolaborasi dengan Pemerintah Kota Depok, Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporyata), komunitas serta pelaku ekonomi kreatif.
“Gastronomi itu sebenarnya luas, bukan hanya makanan khas. Makanan bisa dikemas dengan narasi dan pengalaman yang membuat orang mengingat pengalaman mereka ketika makan dan akhirnya ingin kembali lagi,” ungkapnya.
Kedekatan keduanya dengan Kota Depok menjadi modal dalam mengembangkan Rasakala. Adam yang merupakan lulusan Geografi Universitas Indonesia telah tinggal di Depok selama hampir 18 tahun.
Ia mengaku masih mengingat kondisi Depok ketika kebun dan empang masih mudah ditemukan di berbagai sudut kota.
“Kalau bicara saya dekat dengan Depok, pastinya ini sudah menjadi bagian dari diri saya,” ujarnya.
Sementara Riska yang merupakan lulusan Politeknik Negeri Jakarta tumbuh dan besar di Kota Depok. Saat mengikuti program pertukaran pelajar di University of Nottingham, Inggris, ia juga membawa cerita mengenai budaya dan wastra Depok.
“Saya bangga memiliki identitas sebagai warga Kota Depok. Itu yang ingin saya gaungkan, bahwa saya memiliki identitas sebagai masyarakat Kota Depok dan saya bangga dengan budaya saya,” katanya.
Melalui Rasakala, keduanya ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk makanan.
Mengenal bahan, mempelajari cara memasak, memahami cerita di balik hidangan, kemudian memperkenalkannya kepada generasi berikutnya menjadi bagian dari upaya menjaga warisan kuliner Betawi Depok.
Dari sepiring pecak, sayur besan hingga sayur asam bening, tersimpan cerita mengenai masyarakat Depok yang terus diwariskan. Melalui pendekatan gastronomi, Adam dan Riska berharap kuliner khas Betawi Depok semakin dikenal sekaligus menjadi bagian dari identitas dan daya tarik Kota Depok.






