KulinerLifestyle

Mengapa Kopi Begitu Lekat dengan Bogor? Jejaknya Ternyata Dimulai Sejak 1817

7
×

Mengapa Kopi Begitu Lekat dengan Bogor? Jejaknya Ternyata Dimulai Sejak 1817

Sebarkan artikel ini

Kota Bogor, Warganet – Kopi bukan sekadar minuman bagi masyarakat Bogor. Di balik secangkir kopi yang disajikan di kedai-kedai kota, tersimpan jejak sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan kopi di Indonesia.

 

Kota Bogor bahkan memiliki posisi penting dalam sejarah tersebut. Jejak kopi di kota ini disebut telah dimulai sejak 1817, ketika tanaman kopi mulai dikembangkan dan diadaptasikan di wilayah Bogor.

 

Melansir laman resmi Pemerintah Kota Bogor, Jumat (21/8/2026), proses aklimatisasi atau adaptasi tanaman kopi yang memiliki nilai ekonomi tinggi dilakukan pada masa kolonial, khususnya melalui pengembangan awal di kawasan yang kini dikenal sebagai Kebun Raya Bogor.

 

Sejarah panjang itu kemudian berkembang menjadi bagian dari kehidupan ekonomi dan budaya masyarakat. Produksi biji kopi hingga keberadaan berbagai usaha dan kegiatan bertema kopi membuat komoditas tersebut semakin melekat dengan identitas Bogor.

 

Dari Sejarah ke Identitas Kota

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan sejarah kopi menjadi salah satu modal bagi kota tersebut dalam memperkuat posisi sebagai City of Gastronomy.

 

Dedie menyampaikan hal itu saat membuka Festival Kopi Legendaris di Lapangan Sempur, Jumat (21/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Festival Merah Putih.

 

Menurut Dedie, kopi pertama kali mendarat di Bogor pada 1817. Sejarah tersebut kemudian melahirkan tradisi dan usaha kopi yang bertahan hingga sekarang.

 

Salah satu yang disebutnya adalah Bah Sipit. Kedai kopi legendaris tersebut telah ada sejak 1925 dan dianggap sebagai salah satu pelopor perkopian di Kota Bogor.

 

“Jadi memang Bogor itu punya sejarah lekat tentang kopi,” ujar Dedie.

 

Keberadaan merek dan usaha kopi yang telah dikenal masyarakat menjadi bagian dari ekosistem gastronomi yang terus dibangun pemerintah kota.

 

“Kopi itu kan bagian dari sebuah identitas kota terkait dengan gastronomi. Jadi ada kaitan,” katanya.

 

Kopi Bertemu Ekonomi Kreatif

Kopi juga tidak berdiri sendiri dalam ekosistem kuliner Bogor. Perkembangannya bersinggungan langsung dengan sektor makanan dan minuman atau F&B yang menjadi bagian penting dari ekonomi kreatif.

 

Ketua Forum Bogor Kota Gastronomi Haidhar Wurjanto menyebut sekitar 80 persen ekonomi kreatif ditopang sektor F&B, termasuk keberadaan kopi.

 

Menurutnya, hampir setiap tempat makan dan minum di Bogor memiliki sajian kopi dengan karakter yang beragam.

 

Keragaman tersebut bukan hanya terlihat dari jenis kopinya, tetapi juga dari cara masyarakat menikmatinya. Kopi dapat disajikan dari bubuk, berbasis espresso, menggunakan susu, gula aren, maupun dinikmati sebagai espresso.

 

Keragaman cara minum tersebut menjadi bagian dari pengalaman gastronomi yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat maupun wisatawan.

 

Merawat Sejarah dalam Secangkir Kopi

Bagi Bogor, perjalanan kopi dari sejarah masa lalu menuju ekosistem kuliner masa kini menunjukkan bahwa gastronomi tidak hanya berbicara tentang makanan dan minuman.

 

Ada sejarah, kebiasaan, pelaku usaha dan pengalaman masyarakat yang membentuk identitas sebuah kota.

 

Karena itu, Festival Kopi Legendaris bukan sekadar menghadirkan berbagai sajian kopi. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali hubungan panjang antara kopi dan Bogor sekaligus memperkuat cita rasa kota sebagai City of Gastronomy.

 

Dari jejak yang dimulai sejak 1817 hingga tumbuhnya kedai-kedai kopi hari ini, secangkir kopi di Bogor membawa cerita tentang bagaimana sebuah komoditas dapat berkembang menjadi bagian dari identitas sebuah kota.