PendidikanPeristiwa

Inug Dongeng Kritik Konten Viral yang Meniru Penyandang Disabilitas

3
×

Inug Dongeng Kritik Konten Viral yang Meniru Penyandang Disabilitas

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG, Warganet – Pendongeng dan pegiat literasi yang dikenal dengan nama Inug Dongeng, yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Palembang (DKP), mengkritik maraknya konten viral di media sosial yang menampilkan orang berpura-pura menjadi penyandang disabilitas. Menurutnya, konten semacam itu tidak mencerminkan semangat inklusi dan berpotensi mereduksi pengalaman hidup penyandang disabilitas menjadi sekadar bahan hiburan.

Kritik tersebut disampaikan Inug Dongeng, yang bernama asli Selamet Nugraha, melalui unggahan video di akun Instagram @inugdongeng, Minggu (7/6).

“Belakangan ini saya melihat beberapa konten yang sedang viral di media sosial. Konten yang menampilkan orang berpura-pura menjadi anak disabilitas. Dibuat untuk hiburan, untuk lucu-lucuan bahkan digunakan untuk mempromosikan produk-produk dari merek yang cukup besar,” ujarnya.

Sebagai ayah dari Telaga Bening Deslaya, seorang anak disabilitas yang telah meraih sejumlah prestasi, Selamet mengaku tidak bisa memandang konten tersebut sebagai sesuatu yang lucu.

“Banyak orang mungkin tertawa, tapi saya dan ribuan orang tua yang lain tidak bisa tertawa. Karena saya adalah orang tua dari seorang anak disabilitas,” katanya.

Menurut Selamet, disabilitas bukanlah peran yang dapat dimainkan demi kebutuhan hiburan atau promosi. Bagi penyandang disabilitas dan keluarganya, kondisi tersebut merupakan bagian dari kehidupan yang dijalani setiap hari.

“Disabilitas bukan kostum yang bisa dipakai saat membuat konten lalu dilepas ketika kamera dimatikan. Disabilitas adalah bagian dari kehidupan yang dijalani setiap hari,” tegasnya.

Ia kemudian menceritakan perjalanan putrinya dalam meraih berbagai pencapaian. Di balik setiap prestasi, kata dia, terdapat proses panjang, latihan berulang, tantangan, dan dukungan keluarga yang tidak sedikit.

Selamet menyebut Bening pernah menjadi juara lomba membatik, meraih prestasi dalam lomba film pendek Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N), serta menerima Apresiasi Inklusi pada Gala Cerita Rakyat Indonesia.

“Semua itu bukan datang begitu saja. Ada kerja keras di belakangnya. Ada keberanian untuk tampil. Ada usaha yang terus berkembang meskipun jalannya tidak selalu mudah,” ujarnya.

Menurut Selamet, Indonesia memiliki banyak anak disabilitas yang berprestasi di berbagai bidang. Mereka mampu menunjukkan kemampuan dalam seni, olahraga, literasi, hingga kegiatan budaya.

Karena itu, ia mempertanyakan mengapa sejumlah pihak masih memilih menggunakan orang yang berpura-pura menjadi penyandang disabilitas dalam kampanye promosi dibandingkan melibatkan penyandang disabilitas yang sebenarnya.

“Di negeri ini ada begitu banyak anak-anak disabilitas yang luar biasa. Ada yang pandai melukis, ada yang hebat menari, ada yang jago mendongeng, ada yang berprestasi di bidang olahraga, seni dan banyak bidang lainnya. Tapi mengapa ketika sebuah brand ingin membuat kampanye atau promosi, yang dipilih justru orang-orang yang berpura-pura menjadi disabilitas,” katanya.

Sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Palembang, Selamet menilai ruang publik seharusnya memberi kesempatan yang lebih luas kepada penyandang disabilitas untuk tampil dan menunjukkan kemampuan mereka. Menurutnya, inklusi tidak cukup hanya menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan melalui keterlibatan langsung kelompok disabilitas dalam berbagai kegiatan kreatif, seni, maupun kampanye publik.

Ia berharap para kreator konten, pelaku industri kreatif, maupun perusahaan dapat lebih menghargai nilai inklusi dengan memberikan ruang yang nyata bagi penyandang disabilitas untuk tampil dan berkarya.

Menurutnya, pelibatan penyandang disabilitas secara langsung akan menghadirkan representasi yang lebih autentik sekaligus menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan yang mereka jalani setiap hari.

“Berikan kesempatan kepada mereka untuk tampil dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Itulah inklusi yang sesungguhnya,” tutupnya.