Donggala, Warganet – Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan ITB Smart-Nursery Backpack, teknologi persemaian portabel berbentuk ransel yang membantu masyarakat membudidayakan bibit rotan sebelum ditanam kembali di kawasan hutan.
Inovasi tersebut diterapkan bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Nupabomba di Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (24/7/2026).
Melalui konsep “Hutan ke Rumah” (Forest-to-Home), benih rotan yang sebelumnya memiliki tingkat keberhasilan tumbuh rendah di alam dapat dirawat masyarakat selama tiga bulan pertama di lingkungan rumah sebelum dikembalikan ke habitatnya.
Mengutip laman resmi ITB, teknologi ini dikembangkan untuk menjawab tantangan regenerasi rotan, khususnya pada fase perkecambahan dan pertumbuhan awal yang rentan terhadap serangan hama serta perubahan kondisi lingkungan. Tim ITB mencatat tingkat keberhasilan hidup bibit rotan di habitat alaminya umumnya tidak lebih dari 5 persen.
Padahal, Indonesia menjadi salah satu penghasil utama rotan dunia dengan kontribusi hampir 80 persen terhadap produk rotan global. Sulawesi Tengah, termasuk Kabupaten Donggala, merupakan salah satu wilayah penting dalam produksi rotan nasional.
ITB Smart-Nursery Backpack mampu menampung sekitar 50 hingga 100 bibit rotan dalam satu unit. Perangkat ini dilengkapi sistem penyiraman otomatis, sensor kelembapan, lampu ultraviolet, serta perlindungan terhadap hama.
Sistem tersebut dapat dikendalikan melalui aplikasi telepon pintar sehingga kondisi persemaian dapat dipantau dan disesuaikan dengan kebutuhan bibit selama fase kritis pertumbuhan.
“Ransel Cerdas untuk Persemaian Rotan Lestari kami rancang sebagai teknologi yang dapat dikendalikan melalui telepon pintar untuk mengatur sistem sensor secara otomatis,” ujar Ketua Tim Pelaksana, Acep Purqon, Ph.D., dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB.
“Dengan teknologi ini, masyarakat dan petani rotan dapat berperan langsung membantu proses perkecambahan dan perawatan bibit rotan pada fase kritis selama tiga bulan pertama, langsung dari rumah,” katanya.
Selain mudah dipindahkan, perangkat tersebut menggabungkan rekayasa sistem ekologis dan prinsip keberlanjutan sosial. Kehadiran bibit rotan di lingkungan rumah juga mengusung konsep biophilic co-living, yaitu memperkuat hubungan manusia dengan alam melalui aktivitas penghijauan.
Program ini dikembangkan oleh tim lintas disiplin ITB yang memadukan keahlian di bidang sistem cerdas, desain produk, biologi, ekologi, hingga pemberdayaan masyarakat.
Tim tersebut diketuai Acep Purqon, Ph.D., dengan anggota Deny Willy Junaidy, M.T., Ph.D., dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, Prof. Ramadhani Eka Putra, Ph.D., dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, serta sejumlah mahasiswa.
Sebelum diterapkan di Nupabomba, prototipe ITB Smart-Nursery Backpack dikembangkan menggunakan teknologi cetak tiga dimensi atau 3D printing di Furniture and Living Lab FSRD ITB, kemudian diintegrasikan dengan sistem kendali cerdas berbasis aplikasi.
Dalam penerapannya, ITB melibatkan LPHD Nupabomba, pemerintah desa, komunitas petani rotan, serta pelaku industri untuk memastikan teknologi tersebut dapat digunakan secara berkelanjutan.
Dosen FSRD ITB, Deny Willy Junaidy, M.T., Ph.D., mengatakan keterlibatan pelaku industri diperlukan agar proses transfer pengetahuan pengelolaan rotan berjalan dari tingkat petani hingga sektor usaha.
“Keterlibatan PT Bamba Rattan Furniture sebagai representasi industri kecil dan menengah memastikan proses transfer pengetahuan berlangsung dari komunitas petani hingga mitra usaha. Dengan demikian, terbentuk alih pengetahuan yang utuh dari hulu hingga hilir,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara ITB, masyarakat, dan pelaku industri, konsep Forest-to-Home diharapkan dapat menjadi model pembibitan rotan berkelanjutan yang menggabungkan inovasi teknologi, pelestarian hutan tropis, serta penguatan ekonomi lokal.







