Pendidikan

Kehilangan Kedua Kaki Tak Hentikan Langkah Rozi Raih Doktor dengan IPK Sempurna

3
×

Kehilangan Kedua Kaki Tak Hentikan Langkah Rozi Raih Doktor dengan IPK Sempurna

Sebarkan artikel ini

Surabaya, Warganet – Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi Dr Rozi SPi MBiotech untuk terus berprestasi. Dosen Departemen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) itu berhasil meraih gelar doktor pada Program Studi S3 Sains Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR dengan predikat cum laude dan IPK sempurna 4,00.

Berdasarkan artikel yang dipublikasikan Universitas Airlangga Official Website pada 26 Mei 2026, Rozi menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu 3 tahun 11 bulan. Selama menempuh pendidikan doktoral, ia tetap aktif menjalankan tridarma perguruan tinggi, mulai dari mengajar, melakukan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga menghasilkan publikasi ilmiah internasional.

Sebagai penyandang disabilitas daksa akibat amputasi kedua kaki, perjalanan akademik Rozi tidak selalu mudah. Ia mengaku sempat menghadapi masa-masa berat ketika harus menerima perubahan besar dalam hidupnya. Namun, pengalaman tersebut justru mengajarkannya untuk terus bangkit dan berkembang.

“Saya belajar bahwa manusia tidak selalu diuji untuk dijatuhkan, tetapi kadang diuji untuk menemukan versi terkuat dari dirinya,” ujar Rozi seperti dikutip dari Universitas Airlangga Official Website

Produktivitas akademiknya selama studi doktoral juga terbilang tinggi. Rozi berhasil menerbitkan dua artikel internasional bereputasi Scopus Q1 dan tiga artikel Scopus lainnya. Selain itu, ia juga aktif menjadi editor pada jurnal internasional bereputasi Scopus.

Rozi lahir dan besar di Desa Markanding, Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara yang berasal dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya menggantungkan hidup dengan berjualan ikan secara eceran.

Menurut Rozi, nilai kerja keras dan semangat pantang menyerah yang ditanamkan orang tuanya menjadi bekal penting dalam perjalanan hidup dan pendidikannya.

“Ayah saya mungkin tidak memahami apa itu jurnal internasional atau disertasi doktoral, tetapi beliau mengajarkan kerja keras, ketulusan, dan semangat untuk tidak menyerah,” tuturnya.

Selain dukungan keluarga, Rozi juga mengapresiasi lingkungan akademik UNAIR yang dinilainya inklusif dan suportif bagi penyandang disabilitas. Ia menilai aksesibilitas kampus yang terus berkembang serta penerimaan dari sivitas akademika menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilannya menyelesaikan studi.

Bagi Rozi, capaian doktor dengan IPK sempurna bukan hanya keberhasilan pribadi, melainkan juga bukti bahwa pendidikan harus memberikan kesempatan yang setara bagi semua orang.

“Pendidikan adalah hak semua orang. Keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti belajar dan bertumbuh,” tegasnya.