Yogyakarta, Warganet – Yesita Vera Saraswati dinobatkan sebagai wisudawan termuda Program Doktor pada Wisuda Pascasarjana Periode IV Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia menyelesaikan Program Studi Doktor Ilmu Peternakan dengan predikat cumlaude dan IPK 3,99 dalam waktu 3 tahun 9 bulan 10 hari, pada usia 27 tahun 10 bulan 8 hari.
Yesita diwisuda bersama lulusan Program Pascasarjana UGM pada Rabu (23/7/2026) di Grha Sabha Pramana. Ia menjadi wisudawan doktor termuda di antara 90 lulusan Program Doktor, termasuk satu warga negara asing dan 19 lulusan periode sebelumnya, yang memiliki rata-rata usia 42 tahun 6 bulan 16 hari.
Perempuan asal Klaten yang akrab disapa Sita itu mengaku perjalanan menyelesaikan studi doktor bukan hal yang mudah. Selama menempuh pendidikan, ia harus menguras emosi, energi, dan tenaga hingga akhirnya berhasil meraih gelar doktor.
“Rasanya luar biasa. Ada perasaan lega ketika segala sesuatu yang dulunya terasa sangat berat akhirnya terbayar setelah lulus,” ungkap Sita, pada Selasa (28/7/2026).
Mengutip situs resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), Sita menuturkan bahwa selain mengerjakan penelitian disertasi di lapangan, ia juga menangani sekitar 70 hingga 80 mahasiswa S1 dan S2 yang tergabung dalam tim penelitian sejak awal bergabung.
“Dinamikanya tidak hanya pada diri saya sendiri, tetapi bagaimana saya melakukan manajerial tim dari berbagai laboratorium, sementara di sisi lain saya juga harus tetap menyusun disertasi untuk keperluan studi pribadi saya,” terangnya.
Program doktor yang ditempuh Sita merupakan Program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Disertasinya berjudul “Studi Karakteristik Eksterior dan Genetik Ayam Lokal dan Persilangannya”, yang berfokus pada pembentukan ayam lokal galur baru.
Dalam riset tersebut, Sita dan tim meneliti potensi genetik ayam lokal Indonesia yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai sumber protein hewani sekaligus mendukung kebutuhan protein masyarakat.
“Jadi kami berusaha untuk melakukan perbaikan mutu genetik ayam lokal melalui persilangan dan seleksi sampai saat ini sudah mencapai generasi kelima,” jelasnya.
Menurut Sita, penelitian tersebut membutuhkan proses panjang. Tim harus mengawinkan dan menyilangkan ayam, memeliharanya hingga berusia sekitar 32 minggu, kemudian mengawinkannya kembali untuk menghasilkan generasi berikutnya sebagai bagian dari pengumpulan data penelitian.
Selama menempuh studi doktor, Sita juga aktif mengikuti berbagai penelitian, kegiatan organisasi, menghasilkan publikasi ilmiah, hak cipta dalam bentuk poster, hingga mengikuti kegiatan kesenian seperti karawitan.
“Bagi saya, di samping studi, kita harus tetap menjalin relasi sosial yang baik dengan orang lain dan menyeimbangkan kesenangan agar hidup tetap seimbang,” ungkapnya.
Ke depan, Sita bercita-cita menjadi akademisi atau dosen.
“Bagi saya, pembelajaran tidak akan pernah putus meskipun sudah menyelesaikan jenjang S3,” pungkasnya.







