Ekonomi Dan Bisnis

Kemenperin Optimistis IKM Pangan Mampu Naik Kelas dan Perkuat Rantai Pasok Industri Melalui Inovasi Produk Antara

4
×

Kemenperin Optimistis IKM Pangan Mampu Naik Kelas dan Perkuat Rantai Pasok Industri Melalui Inovasi Produk Antara

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Warganet – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri kecil dan menengah (IKM) pangan untuk naik kelas melalui penguatan pengembangan produk antara (intermediate product) berbasis sumber daya lokal. Strategi ini menjadi fokus utama dalam program Indonesia Food Innovation (IFI) 2026: Intermediate Product Edition, yang diarahkan untuk memperkuat posisi IKM agar tidak hanya berhenti di produk akhir, tetapi masuk ke rantai pasok industri besar berbasis business to business (B2B).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pengembangan industri pangan harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, termasuk penguatan produk antara sebagai fondasi rantai pasok nasional. Menurutnya, penguatan ini penting agar IKM mampu memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dan tidak sekadar menjadi pelaku usaha skala kecil di pasar akhir.

“Penguatan industri pangan nasional perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemanfaatan sumber daya lokal, pengembangan produk antara, hingga peningkatan kapasitas pelaku usaha agar mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri yang lebih luas,” ujar Menperin di Jakarta, Rabu (17/6).

Program IFI 2026 yang digelar oleh Kemenperin juga mendapat apresiasi karena dinilai menjadi salah satu instrumen penting dalam pembinaan IKM pangan. Program ini menargetkan penguatan kapasitas pelaku usaha agar mampu menghasilkan produk yang lebih standar, bernilai tambah, dan siap masuk pasar industri.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menyampaikan bahwa sektor industri makanan dan minuman masih menjadi kontributor terbesar manufaktur nasional dengan porsi 36,6 persen pada triwulan I-2026. Selain itu, sektor ini mencatat nilai ekspor sebesar USD3,16 miliar pada Maret 2026.

Ia juga menyoroti besarnya peran IKM dalam struktur industri nasional. Dari total unit usaha industri di Indonesia, 99,7 persen merupakan IKM yang menyerap lebih dari 65 persen tenaga kerja sektor industri. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,07 juta unit atau 46,63 persen merupakan IKM pangan.

Namun demikian, Reni menilai masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi pelaku IKM pangan, mulai dari keterbatasan sumber daya, pemenuhan standar dan legalitas, inovasi produk, hingga fluktuasi bahan baku dan permintaan pasar. Karena itu, pengembangan produk antara dinilai menjadi solusi strategis.

Produk antara disebut penting karena mampu meningkatkan nilai tambah, memperpanjang masa simpan bahan pangan, mengurangi food waste, serta membuka akses pasar B2B yang lebih luas dan berkelanjutan. Selain itu, produk ini juga menjadi dasar pengembangan berbagai inovasi produk hilir bernilai ekonomi tinggi.

Pengembangan ini juga sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang percepatan penganekaragaman pangan berbasis potensi sumber daya lokal. Pemerintah bersama Badan Pangan Nasional juga tengah menyiapkan skema insentif, termasuk kemudahan pembiayaan, subsidi teknologi, percepatan sertifikasi, hingga fasilitasi akses pasar B2B.

Direktur Industri Pangan, Furnitur, dan Bahan Bangunan Kemenperin Afrizal Haris menyebutkan bahwa IFI telah berjalan sejak 2020 dan telah diikuti lebih dari 2.000 IKM pangan di seluruh Indonesia. Tahun 2026 menjadi momentum penting karena IFI secara khusus difokuskan pada pengembangan produk antara sebagai bagian dari transformasi IKM pangan.

Peserta IFI 2026 akan mengikuti tahapan Food Camp yang mencakup strategi bisnis, manajemen risiko, hingga keamanan pangan, dilanjutkan dengan Food Business Scale-Up melalui coaching dan mentoring bersama akademisi dan pelaku usaha.

Melalui program ini, Kemenperin berharap IKM pangan semakin adaptif, inovatif, dan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional berbasis sumber daya lokal sekaligus meningkatkan daya saing di pasar global. (***) ril/one