Palembang, Warganet – Seni pertunjukan Dulmuluk ternyata tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya masyarakat Palembang. Berdasarkan kajian sejarah, kesenian ini pernah memainkan peran strategis dalam mendukung modernisasi kota sekaligus menjadi daya tarik bagi investor asing pada masa kolonial Belanda.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri), Dr. Dedi Irwanto, menjelaskan bahwa setelah Palembang ditetapkan sebagai Stadsgemeente pada 6 April 1906, pemerintah kolonial berupaya menggerakkan perekonomian kota melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan berskala besar yang mampu menarik perhatian pengunjung maupun kalangan investor.
“Setelah Palembang ditetapkan sebagai Stadsgemeente pada 6 April 1906, pemerintah kolonial memutar otak untuk menggenjot roda ekonomi kota melalui event besar,” terangnya, Senin (27/7/2026).
Salah satu agenda terbesar saat itu adalah Koninginnedag, peringatan hari ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina yang di kalangan masyarakat dikenal sebagai Pekan Pasar Malam. Perayaan yang berlangsung selama sepekan itu menampilkan berbagai atraksi dan pertunjukan budaya sebagai bagian dari strategi memperkenalkan wajah modern Palembang.
Pada periode 1906–1910, pemerintah kolonial mendatangkan kelompok Komedi Stamboel “Mahkota India” dari Singapura untuk mengisi pertunjukan pembukaan dan penutupan Koninginnedag. Kehadiran kelompok teater tersebut kemudian menginspirasi seniman Palembang, Wak Nang Nong, untuk menciptakan seni pertunjukan berbasis narasi lokal.
“Pertunjukan ‘Mahkota India’ itulah yang mengilhami Wak Nang Nong, seorang seniman besar Palembang kala itu, untuk melahirkan seni pertunjukan serupa berbasis narasi lokal,” ungkap Dedi.
Pada 1910, Wak Nang Nong mengadaptasi Syair Abdulmuluk menjadi sebuah pertunjukan teater yang kemudian dikenal sebagai Abdulmoeloek-theater. Kelompok teater itu dibentuk di kediamannya di kawasan Tangga Panjang, Sungai Kedemangan, Kampung 7 Ulu, Palembang, yang sekaligus menjadi tempat melatih para aktor lokal.
Setelah menjalani latihan selama lebih dari lima bulan, Abdulmoeloek-theater menggelar pertunjukan perdana pada 16–22 April 1910 di Guguk Tanggo Takat. Pementasan tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat hingga menjadi buah bibir di berbagai wilayah Palembang.
Keberhasilan pertunjukan itu juga mendapat apresiasi dari surat kabar berbahasa Belanda, Palembangsch Nieuwsblad, yang menilai Abdulmoeloek-theater sebagai hiburan berkualitas. Wak Nang Nong bahkan mendapat julukan Toean Nang Nong, Abdulmoeloek-theater Directeur, berkat kepiawaiannya sebagai sutradara sekaligus aktor.
“Koran lokal Belanda memberi respons amat positif. Seni pertunjukan buatan Wak Nang Nong ini dinilai sangat menghibur. Wak Nang Nong bahkan dipuji setinggi langit dan disapa sebagai Toean Nang Nong, Abdulmoeloek-theater Directeur. Segala lakon diatur olehnya; ia adalah sutradara sekaligus aktor yang amat mahir bertutur,” ujar Dedi.
Popularitas Abdulmoeloek-theater kemudian menyebar ke berbagai wilayah Uluan Palembang. Kelompok tersebut kerap diundang tampil oleh para pasirah di sejumlah marga, sebelum akhirnya dipercaya mengisi panggung pembukaan Koninginnedag mulai 31 Agustus 1910, menggantikan dominasi kelompok “Mahkota India” dari Singapura.
Ketenaran Dulmuluk juga membawa kelompok Abdulmoeloek-theater tampil di Gedung Societiet untuk menghibur kalangan pegawai Melayu, Tionghoa, hingga sebagian masyarakat Eropa yang memahami bahasa Melayu. Saat itu, profesi sebagai aktor teater bahkan mampu meningkatkan kesejahteraan para pemain karena tingginya minat masyarakat terhadap setiap pementasan.
Sementara itu, Prof. Farida menilai pengenalan kembali seni Dulmuluk kini sudah berada di titik krusial sebelum warisan budaya tersebut benar-benar dilupakan.
“Sekitar tahun 1960–1970-an, saya sering sekali menonton Dulmuluk yang dipentaskan di pesta-pesta pernikahan warga. Sayangnya, sekarang Dulmuluk lebih sering hadir sekadar sebagai seremonial budaya di acara dinas pemerintah, bukan lagi hiburan rakyat,” kenang Prof. Farida.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat luas, terutama generasi muda, semakin asing dengan seni tradisi yang pernah berjaya di Palembang itu.
“Inilah yang menjadi kewajiban kita bersama untuk mengenalkannya kembali,” tegasnya.
Sejarah perkembangan Dulmuluk tersebut disampaikan dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang digelar Tim Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya di SMA Negeri 1 Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Senin (27/7/2026). Melalui kegiatan itu, para guru sejarah didorong memanfaatkan sejarah lokal sebagai bahan ajar berbasis e-comic agar lebih menarik bagi siswa sekaligus memperkuat upaya pelestarian warisan budaya Palembang.







