Ekonomi Dan Bisnis

Harga Telur Makin Murah dari Bulan ke Bulan, Peternak Mulai Menarik Napas Panjang Menjaga Usaha Tetap Bertahan

4
×

Harga Telur Makin Murah dari Bulan ke Bulan, Peternak Mulai Menarik Napas Panjang Menjaga Usaha Tetap Bertahan

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Warganet – Kalau belanja ke pasar akhir-akhir ini, satu hal yang bikin hati sedikit lega, pasalnya telur ayam ras lagi turun harga, setidaknya membuat dompet bisa sedikit tersenyum, bahkan ibu-ibu juga bisa bilang, “Alhamdulillah, bisa nambah lauk.”

Tapi disisi lainnya… ada cerita yang agak berbeda di kandang ayam. Bukan ayamnya yang galau, tapi yang punya kandang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga telur ayam ras di tingkat peternak memang terus mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Dari Maret 2026 yang masih di angka Rp27.236 per kilogram, turun menjadi Rp25.719 pada April, lalu Rp24.688 pada Mei, hingga awal Juni kembali melemah di Rp24.424 per kilogram.

Kalau dilihat sekilas, ini seperti kabar baik bagi konsumen. Tapi bagi peternak, kondisi ini justru seperti napas yang dipotong sedikit demi sedikit. Karena di saat harga jual turun, biaya produksi tidak ikut kompromi. Pakan tetap harus dibeli, kandang tetap harus dirawat, dan ayam tetap harus makan, tidak bisa diajak ikut program “hemat nasional”.

Tidak heran jika sebagian peternak mulai merasakan tekanan yang semakin berat. Karena dalam dunia peternakan, harga turun bukan sekadar angka di kertas, tapi langsung terasa di isi dompet dan keberlanjutan usaha.

Pemerintah sendiri melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) melihat kondisi ini perlu segera ditata. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa mengutip dilaman resmi badan pangan menerangkan, ingin dicapai bukan hanya harga murah, tetapi harga yang wajar. Artinya, peternak tetap hidup, konsumen tetap mampu membeli, dan pasar tetap stabil.

Di tengah situasi ini, program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dilirik sebagai salah satu penopang. Dengan jumlah penerima manfaat yang besar, program ini diharapkan bisa menyerap produksi telur langsung dari peternak melalui SPPG di daerah. Di Jawa Timur, salah satu sentra produksi utama, pemerintah bahkan mendorong agar pembelian dilakukan langsung dari asosiasi peternak, supaya harga dan serapan lebih terjamin.

Kalau disederhanakan, skemanya seperti ini ketika pasar sedang lesu, negara ikut turun tangan menjadi pembeli besar. Harapannya sederhana, agar telur tidak hanya laku di pasar tradisional, tapi juga terserap di program pangan nasional.

Sementara, data BPS juga menunjukkan konsumsi telur masyarakat terus meningkat. Pada 2025, rata-rata konsumsi telur ayam ras mencapai 2,362 kilogram per kapita per minggu, naik sekitar 19 persen dibandingkan 2016. Artinya, telur bukan lagi cuma lauk tambahan, tapi sudah menjadi salah satu sumber protein utama masyarakat Indonesia.

Kondisi ini menjadi posisi telur jadi unik, sebab ia kecil, sederhana, dan sering dianggap biasa. Tapi dibalik itu, ia menyimpan urusan besar, soal inflasi, kesejahteraan peternak, hingga kebijakan pangan nasional.

Sehingga dengan  kondisi ini menunjukkan satu hal sederhana tapi penting, yaitu harga murah memang menyenangkan, tapi kalau terlalu murah sampai membuat peternak kewalahan, maka yang perlu dijaga bukan hanya harga di pasar, tapi juga keberlangsungan di kandang.

Karena di balik telur yang kita beli hari ini, ada rantai panjang yang sedang berusaha tetap berdiri, tanpa banyak orang sadari. (***)/one