Peristiwa

Kupon Karet, Kebijakan Kolonial yang Pernah Selamatkan Petani Palembang dari Krisis Harga

6
×

Kupon Karet, Kebijakan Kolonial yang Pernah Selamatkan Petani Palembang dari Krisis Harga

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Warganet – Jauh sebelum Indonesia merdeka, petani karet di Palembang pernah menghadapi masa sulit akibat anjloknya harga komoditas tersebut di pasar dunia. Krisis ekonomi global atau malaise pada awal 1930-an membuat harga karet merosot tajam sehingga pendapatan petani ikut terpuruk.

 

Dalam buku Kantor Wali Kota Palembang dari Masa ke Masa disebutkan, harga karet di pasar internasional turun drastis akibat berkurangnya permintaan. Kondisi ini sangat memukul petani karet pribumi yang saat itu menggantungkan penghidupan dari hasil perkebunan.

 

Untuk mengatasi situasi tersebut, pemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijakan yang dikenal sebagai kupon karet. Kebijakan ini bertujuan mengendalikan jumlah karet yang dipasarkan sehingga kelebihan pasokan dapat dikurangi dan harga karet kembali membaik.

 

Melalui sistem kupon, petani atau pemilik kebun memperoleh hak menjual karet dalam jumlah tertentu. Dengan pembatasan produksi dan pemasaran itu, harga karet perlahan pulih setelah sebelumnya terus mengalami penurunan.

 

Buku tersebut mencatat bahwa kebijakan kupon karet membantu petani karet rakyat bangkit dari krisis. Harga karet kembali bergerak naik dan berangsur kembali ke tingkat sebelum terjadinya krisis ekonomi pada dekade 1930-an.

 

Kebijakan ini menjadi salah satu langkah penting pemerintah kolonial dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah penghasil karet, termasuk Palembang yang saat itu menjadi salah satu pusat perdagangan hasil perkebunan di Sumatra.

 

Meski diterapkan pada masa kolonial, kupon karet menjadi catatan sejarah tentang bagaimana pengaturan produksi dan pemasaran komoditas pernah digunakan untuk menjaga harga dan menopang perekonomian masyarakat di tengah gejolak ekonomi dunia.