Wakayama, Warganet – Seekor kucing terlantar bernama Tama berhasil melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan banyak orang: menyelamatkan sebuah stasiun kereta yang terancam tutup sekaligus menjadi penggerak pariwisata di daerahnya.
Berdasarkan unggahan video akun Instagram @idnvoice pada 23 April 2026, kisah ini bermula di Stasiun Kishi, Prefektur Wakayama, Jepang. Pada awal 2000-an, stasiun tersebut mengalami penurunan jumlah penumpang yang cukup drastis. Lokasinya yang terpencil membuat aktivitas di stasiun semakin sepi dan pendapatan operator kereta terus menurun.
Kondisi itu membuat Stasiun Kishi berada di ambang penutupan. Bahkan, karena minimnya aktivitas, tidak ada petugas tetap yang ditempatkan di stasiun tersebut. Di tengah suasana yang lengang, Tama, seekor kucing belang tiga yang sering berkeliaran di sekitar stasiun, menjadi salah satu penghuni yang paling dikenal oleh warga setempat.
Pada Januari 2007, Presiden Wakayama Electric Railway, Mitsunobu Kojima, mengambil langkah yang tidak biasa untuk menarik perhatian masyarakat. Alih-alih menutup stasiun yang merugi, ia mengangkat Tama sebagai Kepala Stasiun Kishi.
Tama kemudian diberi topi petugas stasiun lengkap dengan lencana khusus. Sebagai “gaji”, ia menerima makanan kucing. Meski hanya bersifat simbolis, pengangkatan tersebut segera menarik perhatian media Jepang.
Foto-foto Tama yang mengenakan topi kepala stasiun menyebar luas dan menjadi perbincangan publik. Dalam waktu singkat, Stasiun Kishi yang sebelumnya sepi mulai ramai dikunjungi wisatawan. Banyak orang datang hanya untuk melihat langsung kucing yang menjabat sebagai kepala stasiun.
Popularitas Tama terus meningkat dari tahun ke tahun. Kehadirannya membantu meningkatkan jumlah penumpang kereta dan menarik wisatawan ke wilayah Wakayama. Berbagai produk suvenir bertema Tama juga mulai dijual, sementara Stasiun Kishi berkembang menjadi salah satu destinasi wisata unik di Jepang.
Sejumlah laporan di Jepang memperkirakan kehadiran Tama memberikan dampak ekonomi sekitar 1,1 miliar yen bagi wilayah Wakayama. Karena kontribusinya tersebut, Tama beberapa kali menerima promosi jabatan kehormatan dan menjadi simbol kebangkitan jalur kereta Kishigawa.
Setelah sekitar delapan tahun mengabdi sebagai ikon Stasiun Kishi, Tama meninggal dunia pada 22 Juni 2015 dalam usia 16 tahun. Kepergiannya mengundang duka mendalam. Ribuan orang menghadiri upacara penghormatan yang digelar untuk mengenang jasa-jasanya.
Sebagai bentuk penghargaan, Tama dianugerahi gelar Honorary Eternal Stationmaster atau Kepala Stasiun Abadi Kehormatan. Sebuah kuil Shinto juga dibangun di dekat Stasiun Kishi untuk mengenang kucing yang telah membantu menyelamatkan jalur kereta tersebut.
Hingga kini, kisah Tama masih dikenang sebagai salah satu cerita paling unik di Jepang. Dari seekor kucing terlantar, ia menjelma menjadi ikon yang berhasil mengubah nasib sebuah stasiun kereta dan membawa manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.







